Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHK Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Kalimantan Timur pada akhir 2025 mencapai 346,61 Rp miliar. Selama 16 tahun periode pengamatan 2010-2025, sektor ini tidak pernah mencatat penurunan nilai sama sekali, dengan total kenaikan keseluruhan mencapai 123,59%. Pertumbuhan tahun 2025 tercatat 7,49%, di atas rata-rata pertumbuhan seluruh periode sebesar 5,52%. Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir mencapai 7,61%, lebih tinggi dibanding rata-rata 5 tahun terakhir yang sebesar 6,93%, menunjukkan akselerasi kinerja sektor dalam tiga tahun terakhir.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan di Papua Tengah 2025)
Sepanjang riwayat data, kenaikan tahunan tertinggi terjadi pada tahun 2017 dengan pertumbuhan 8,37%, sedangkan kenaikan tahunan terendah tercatat pada tahun 2015 sebesar 2,56%. Selama 15 tahun berturut-turut sektor ini mencatat pertumbuhan positif, tanpa satu kali periode penurunan maupun stagnan. Posisi nilai akhir 2025 juga tercatat berada di atas nilai rata-rata seluruh periode pengamatan.
Untuk posisi peringkat di wilayah Pulau Kalimantan, Kalimantan Timur secara konsisten menempati urutan ke-2 selama seluruh periode 2010 sampai 2025, tanpa perubahan peringkat. Secara nasional, peringkat provinsi ini terus membaik: dari peringkat 13 pada periode 2010-2018, naik menjadi peringkat 12 pada 2019-2022, kemudian naik lagi menjadi peringkat 11 pada 2023-2024, dan akhirnya menempati urutan 10 se-Indonesia pada tahun 2025.
Banten
Banten menempati urutan 7 nasional untuk tahun terakhir, dengan nilai PDRB sektor ini mencapai 585,9 Rp miliar. Pertumbuhan tahunan terakhir tercatat 4,4%, dengan selisih kenaikan nilai sebesar 24,71 Rp miliar dibanding tahun sebelumnya. Nilai ini menjadikan Banten sebagai provinsi dengan nilai terbesar di antara enam provinsi yang dibandingkan, sekaligus mencatat selisih kenaikan absolut terbesar kedua setelah Kepulauan Riau. Meskipun memiliki nilai dasar terbesar, pertumbuhan persentase Banten berada di urutan keempat dari enam wilayah yang diamati.
Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan tercatat berada pada peringkat 8 se-Indonesia, dengan nilai akhir sektor pengelolaan limbah dan air sebesar 486,19 Rp miliar. Pertumbuhan tahun terakhir sebesar 3,08%, dengan kenaikan nilai absolut 14,52 Rp miliar dari tahun sebelumnya. Provinsi ini menempati urutan pertama di seluruh wilayah Pulau Sulawesi, serta menjadi provinsi dengan nilai terbesar kedua setelah Banten pada kelompok data perbandingan ini. Pertumbuhan persentasenya berada di posisi kelima dari seluruh wilayah yang dibandingkan.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Aceh Jaya | 2004 - 2025)
Sumatera Selatan
Sumatera Selatan menempati peringkat 9 nasional, dengan nilai PDRB sektor ini mencapai 380,9 Rp miliar. Pertumbuhan tahun terakhir tercatat sebesar 1,15%, menjadi pertumbuhan persentase terendah di antara seluruh provinsi yang dibandingkan. Kenaikan nilai absolut hanya sebesar 4,33 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Secara wilayah pulau, Sumatera Selatan menempati urutan kedua di wilayah Sumatera, berada di atas Lampung dan Kepulauan Riau untuk indikator sektor ini.
Bali
Bali tercatat menduduki peringkat 11 se-Indonesia untuk indikator ini, tepat satu peringkat di atas Kalimantan Timur pada tahun sebelumnya. Nilai akhir sektor pengadaan air dan pengelolaan limbah Bali mencapai 346,1 Rp miliar, nyaris sama persis dengan nilai Kalimantan Timur tahun 2025. Pertumbuhan tahun terakhir sebesar 2,51%, dengan kenaikan nilai absolut 8,48 Rp miliar. Provinsi ini menempati urutan pertama di seluruh wilayah Nusa Tenggara dan Bali.
Lampung
Lampung menempati peringkat 12 nasional, dengan nilai PDRB sektor ini mencapai 290,8 Rp miliar. Pertumbuhan tahun terakhir tercatat sebesar 2,55%, sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan Bali di tahun yang sama. Kenaikan nilai absolut mencapai 7,22 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Secara wilayah Pulau Sumatera, Lampung berada pada urutan ketiga, di bawah Sumatera Selatan dan Kepulauan Riau untuk indikator sektor ini.
Kep. Riau
Kepulauan Riau menempati urutan 13 nasional, dengan nilai akhir sektor ini mencapai 283,14 Rp miliar. Provinsi ini mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi di antara seluruh provinsi yang dibandingkan, yaitu sebesar 11,7% dengan kenaikan nilai absolut mencapai 29,65 Rp miliar, menjadi kenaikan absolut terbesar dari seluruh wilayah yang diamati. Secara wilayah Pulau Sumatera, Kepulauan Riau menempati urutan keempat.