Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba Sumatera Utara dengan harga konstan 2010 pada tahun 2024 mencapai Rp 7.134,31 juta. Nilai ini menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 11,79% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir (2021-2023) yang hanya 4,36%. Bahkan, pertumbuhan ini juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir (2019-2023) yang sebesar 4,97%.
Kenaikan ini menjadikan Sumatera Utara menduduki peringkat ke-5 secara nasional. Pertumbuhan PDRB Konsumsi Nirlaba Konstan di Sumatera Utara menunjukkan tren positif. Tahun 2024 menjadi tahun dengan pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2020, pertumbuhan sempat mengalami kontraksi turun 4,02%.
(Baca: PDRB ADHB Sektor Jasa Lainnya Periode 2013-2024)
Secara historis, pertumbuhan tertinggi PDRB Konsumsi Nirlaba Konstan di Sumatera Utara terjadi pada tahun 2024, mencapai 11,79%. Sementara itu, penurunan terendah terjadi pada tahun 2020, yaitu turun 4,02%. Anomali pada tahun 2020 disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pandemi COVID-19 yang membatasi aktivitas lembaga swasta nirlaba.
Di Pulau Sumatera, Sumatera Utara menduduki peringkat pertama dalam PDRB Konsumsi Nirlaba Konstan pada tahun 2024. Peringkat ini sama dengan tahun-tahun sebelumnya dalam lima tahun terakhir. Secara nasional, Sumatera Utara berada di peringkat ke-5. Nilai PDRB Sumatera Utara ini masih di bawah provinsi-provinsi di Pulau Jawa.
Nilai PDRB Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba di Sumatera Utara pada tahun 2024 merupakan yang tertinggi sepanjang periode data historis yang tersedia. Pertumbuhan yang kuat ini mengindikasikan peran penting lembaga swasta nirlaba dalam perekonomian Sumatera Utara. Lembaga-lembaga ini memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai sektor, seperti pendidikan, kesehatan, dan sosial.
DKI Jakarta
DKI Jakarta menempati peringkat pertama secara nasional dengan nilai PDRB Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba mencapai Rp 51.113,3 juta. Pertumbuhan sebesar 11,82% menunjukkan kontribusi signifikan sektor nirlaba dalam perekonomian Jakarta. Pertumbuhan ini sedikit lebih tinggi dari Sumatera Utara.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Humbang Hasundutan Periode 2004 - 2024)
Jawa Timur
Jawa Timur menduduki peringkat kedua se-Indonesia dengan nilai PDRB sebesar Rp 22.349,25 juta. Pertumbuhan 12,49% menunjukkan bahwa sektor nirlaba di Jawa Timur berkembang pesat, dengan pertumbuhan tertinggi dibandingkan 4 wilayah lainnya, serta memiliki peran signifikan dalam perekonomian daerah.
Jawa Tengah
Dengan nilai PDRB mencapai Rp 13.545,01 juta, Jawa Tengah menempati peringkat ketiga secara nasional. Pertumbuhan sebesar 16,38% merupakan angka yang cukup tinggi. Kinerja ini menempatkan Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi dengan sektor nirlaba yang berkembang pesat di Indonesia.
Jawa Barat
Jawa Barat berada di urutan keempat secara nasional dengan nilai PDRB sebesar Rp 11.601,21 juta. Pertumbuhan sebesar 7,89% menunjukkan sektor nirlaba di Jawa Barat terus berkontribusi. Namun, laju pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan provinsi lainnya yang masuk dalam data perbandingan.
Sumatera Utara
Sumatera Utara, dengan nilai PDRB Rp 7.134,31 juta, menempati urutan kelima secara nasional. Pertumbuhan sebesar 11,79% menunjukkan peningkatan yang signifikan. Meskipun berada di peringkat kelima, pertumbuhan sektor nirlaba di Sumatera Utara patut diapresiasi karena melampaui pertumbuhan rata-rata nasional.