Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data triwulanan PDRB Harga Konstan Net Ekspor Nusa Tenggara Timur periode Kuartal I tahun 2026 turun 6.331,33 Rp miliar. Dari catatan historis sejak tahun 2010, nilai ini tercatat berada di atas rata-rata seluruh periode yang turun 7.706,25 Rp miliar. Tren jangka panjang menunjukkan penurunan secara linear dengan perubahan total sebesar 78,59% negatif sejak periode pertama. Selama 65 periode triwulanan yang tercatat, sebanyak 46 periode mengalami kenaikan nilai dan 18 periode mengalami penurunan.
(Baca: Statistik Populasi Sapi Potong Jantan yang Bisa Dipotong Periode 2013-2025)
Kuartal I 2026 mencatatkan pertumbuhan sedikit dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 4972,99 poin. Rata-rata pertumbuhan 3 kuartal terakhir tercatat negatif 2,32%, sedangkan rata-rata 5 kuartal terakhir juga mencatatkan pertumbuhan negatif 2,04%. Hal ini menunjukkan kinerja 3 kuartal terakhir sedikit lebih buruk dibandingkan rentang 5 kuartal terakhir. Peringkat Nusa Tenggara Timur di wilayah Nusa Tenggara dan Bali secara konsisten berada di urutan 3 selama seluruh periode data.
Catatan historis menunjukkan nilai net ekspor terbaik pernah dicapai pada Kuartal I tahun 2011 dengan nilai -3.490,87 Rp miliar, sedangkan titik terburuk terjadi pada Kuartal IV tahun 2019 dengan nilai -12.089,78 Rp miliar. Peringkat nasional wilayah ini sempat berada di urutan 29 hingga 33 pada tahun 2010 sampai 2023, kemudian turun ke peringkat 37 secara konsisten sejak awal tahun 2024 hingga kuartal terbaru.
Pada kuartal terbaru, Nusa Tenggara Timur berada di peringkat 37 nasional. Dibandingkan provinsi lain yang tercatat pada data perbandingan, nilai net ekspor NTT lebih baik dibandingkan Papua, Papua Pegunungan, Bengkulu dan DKI Jakarta. DKI Jakarta mencatatkan nilai terburuk dari seluruh provinsi yang dibandingkan dengan nilai -40.144,62 Rp miliar dan peringkat 38 nasional, sedangkan Papua mencatatkan nilai terbaik dari kelompok perbandingan di peringkat 34.
Sepanjang periode yang dicatat, nilai net ekspor NTT menunjukkan fluktuasi musiman dimana pada setiap kuartal pertama tahun selalu terjadi kenaikan nilai secara signifikan dibandingkan kuartal keempat tahun sebelumnya. Pola musiman ini tetap terjaga pada kuartal I 2026, dengan kenaikan nilai yang terjadi sesuai pola historis yang tercatat selama 16 tahun terakhir.
Papua
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kota Palopo | 2004 - 2025)
Provinsi Papua menempati peringkat 5 di wilayah Pulau Papua dan peringkat 34 secara nasional pada kuartal terakhir, dengan nilai PDRB Net Ekspor turun 2.191,29 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan turun 29,55% pada periode terbaru, dengan selisih perubahan nilai sebesar 919,08 Rp miliar dibandingkan kuartal sebelumnya. Dari seluruh provinsi yang tercatat pada kelompok perbandingan, Papua memiliki nilai net ekspor terbaik dengan selisih lebih dari 4 triliun rupiah lebih baik dibandingkan nilai Nusa Tenggara Timur pada periode yang sama.
Papua Pegunungan
Papua Pegunungan berada di urutan 6 di wilayah Pulau Papua dan peringkat 35 secara nasional, mencatatkan nilai PDRB Net Ekspor turun 2.224,78 Rp miliar pada kuartal terbaru. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan turun 16,87% dengan perubahan nilai sebesar 451,52 Rp miliar dibandingkan periode sebelumnya. Posisinya hanya terpaut satu peringkat dibawah Papua, dengan selisih nilai hanya sekitar 33 milyar rupiah, menjadikan kedua provinsi ini memiliki kinerja net ekspor yang hampir setara pada periode terbaru.
Bengkulu
Bengkulu menempati peringkat 10 di wilayah Pulau Sumatera dan peringkat 36 secara nasional, dengan nilai PDRB Net Ekspor tercatat turun 4.036,77 Rp miliar. Provinsi ini mencatatkan pertumbuhan turun 16,28% pada kuartal terakhir, dengan perubahan nilai sebesar 784,97 Rp miliar dibandingkan periode sebelumnya. Nilai wilayah ini sekitar 1,7 triliun rupiah lebih buruk dibandingkan Nusa Tenggara Timur, dan menempati satu peringkat dibawah NTT pada daftar peringkat nasional.
DKI Jakarta
DKI Jakarta berada di peringkat 6 wilayah Pulau Jawa dan menempati urutan terbawah yaitu peringkat 38 secara nasional pada kuartal terbaru, dengan nilai PDRB Net Ekspor turun 40.144,62 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan turun 49,24% dengan perubahan nilai sebesar 38.947,14 Rp miliar dibandingkan kuartal sebelumnya. Nilai net ekspor DKI Jakarta merupakan yang terburuk dari seluruh wilayah yang dibandingkan, hampir 6 kali lipat lebih buruk dibandingkan nilai Nusa Tenggara Timur pada periode yang sama.