Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHB Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi Sulawesi Barat pada tahun 2024 mencapai Rp 1.279,61 miliar. Data historis menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 3,52% dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ini lebih tinggi Rp 43,48 miliar dibandingkan tahun 2023. Meski demikian, pertumbuhan ini masih di bawah rata-rata pertumbuhan lima tahun terakhir (2019-2023) yang sebesar 6,03%.
Pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir terjadi pada tahun 2021 dengan 11,63%. Sementara penurunan terdalam terjadi pada tahun 2023, terkontraksi -2,88%. Rata-rata pertumbuhan tiga tahun terakhir (2022-2024) sebesar 2,53% menunjukkan perlambatan dibandingkan rata-rata lima tahun sebelumnya. Secara umum, PDRB sektor ini mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir, dengan kenaikan signifikan di beberapa tahun diikuti oleh penurunan atau pertumbuhan yang lebih lambat di tahun lainnya.
(Baca: Harga Daging Ayam di Kep. Bangka Belitung Rp.71.450 per Kg (Senin, 12 Januari 2026))
Secara ranking di Pulau Sulawesi, Sulawesi Barat tetap berada di posisi keenam pada tahun 2024. Secara nasional, Sulawesi Barat berada di peringkat ke-33. Nilai PDRB Sulawesi Barat masih relatif rendah dibandingkan provinsi lain di Sulawesi. Misalnya, Sulawesi Selatan mencatatkan nilai yang jauh lebih tinggi, mencapai Rp 40.124,43 miliar.
Kenaikan tertinggi PDRB Jasa Keuangan dan Asuransi Sulawesi Barat terjadi pada tahun 2021, meningkat sebesar Rp 124 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara penurunan terdalam terjadi pada tahun 2023, menurun sebesar Rp 36,66 miliar. Perubahan ini menggambarkan dinamika sektor keuangan dan asuransi di Sulawesi Barat yang dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan kebijakan.
Secara keseluruhan, PDRB ADHB Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi Sulawesi Barat pada tahun 2024 menunjukkan pertumbuhan positif, namun dengan laju yang lebih lambat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Posisi ranking di Pulau Sulawesi dan secara nasional masih relatif rendah. Fluktuasi pertumbuhan dari tahun ke tahun menunjukkan perlunya perhatian lebih lanjut untuk mendorong perkembangan sektor ini di Sulawesi Barat.
Kep. Bangka Belitung
Kepulauan Bangka Belitung menduduki peringkat ke-10 di pulau Sumatera. Dengan nilai PDRB Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar Rp 2.111,37 miliar, mengalami pertumbuhan 1,78% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menghasilkan selisih nilai sebesar Rp 36,84 miliar. Meskipun demikian, dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan beberapa tahun sebelumnya, pertumbuhan ini tergolong moderat.
(Baca: Inflasi Bulanan Periode 2024-2025)
Maluku Utara
Maluku Utara menempati peringkat ke-2 di Pulau Maluku, mencatatkan nilai PDRB sebesar Rp 2.035,43 miliar. Pertumbuhan yang signifikan sebesar 17,38% dibandingkan tahun sebelumnya, menghasilkan selisih nilai Rp 301,44 miliar. Hal ini menunjukkan performa yang sangat baik dibandingkan dengan pertumbuhan rata-rata dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi yang tertinggi di antara provinsi-provinsi di Maluku.
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara menempati peringkat ke-5 di Pulau Kalimantan. Nilai PDRB sektor ini mencapai Rp 1.731,17 miliar. Pertumbuhan sebesar 7,66% menghasilkan selisih nilai Rp 123,22 miliar. Posisi ranking ini menunjukkan potensi yang cukup baik di wilayah Kalimantan.
Papua Barat Daya
Papua Barat Daya menempati peringkat ke-2 di Pulau Papua. Nilai PDRB sektor keuangan dan asuransi mencapai Rp 1.032,61 miliar, tumbuh sebesar 6,03% dibandingkan tahun sebelumnya. Selisih nilai yang dihasilkan sebesar Rp 58,69 miliar. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa sektor ini cukup berkembang di wilayah Papua Barat Daya.
Papua Tengah
Papua Tengah menduduki peringkat ke-3 di Pulau Papua, dengan nilai PDRB sebesar Rp 912,44 miliar. Pertumbuhan 3,96% menghasilkan selisih nilai Rp 34,75 miliar. Pertumbuhan ini relatif stabil dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Papua Barat
Papua Barat menempati peringkat ke-4 di Pulau Papua. Nilai PDRB sektor jasa keuangan dan asuransi sebesar Rp 906,7 miliar menunjukkan penurunan turun 3,84%. Penurunan ini menghasilkan selisih nilai negatif sebesar Rp 36,16 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya tantangan atau perubahan signifikan dalam sektor keuangan dan asuransi di Papua Barat.