Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Angka Partisipasi Murni (APM) SMA Provinsi Sumatera Utara pada akhir tahun 2025 mencapai 70,4 Persen. Nilai ini merupakan rekor tertinggi sepanjang periode pencatatan sejak 2003, mengalami kenaikan sebesar 0,68 poin persen dibandingkan tahun 2024. Sepanjang 23 tahun pencatatan, tren nilai APM SMA Sumatera Utara secara konsisten menunjukkan arah naik, dengan total peningkatan sebesar 32,76 persen dari nilai awal 53,03 Persen pada tahun 2003.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan di Kalimantan Tengah 2025)
Selama 3 tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan APM SMA Sumatera Utara tercatat 1,03 persen per tahun, angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir yang hanya 0,70 persen per tahun. Kenaikan tertinggi dalam sejarah terjadi pada tahun 2004 dengan penambahan 3,62 poin persen, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada tahun 2005 sebesar 3,15 poin persen. Tercatat hanya ada 2 periode penurunan nilai selama seluruh rentang data, salah satunya hanya penurunan sangat sedikit sebesar 0,01 poin persen pada tahun 2021.
Pada tahun 2025, Sumatera Utara menempati peringkat ke-3 tingkat Pulau Sumatera dan peringkat ke-9 secara nasional untuk indikator APM SMA. Posisi peringkat di tingkat pulau mengalami kenaikan 1 tingkat dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang berada di peringkat 4. Nilai 70,4 Persen Sumatera Utara berada di atas rata-rata historis wilayah ini, dan menunjukkan posisi konsisten di jajaran 10 besar provinsi terbaik di Indonesia selama lebih dari 10 tahun terakhir.
Sumatera Barat
Sumatera Barat menempati posisi peringkat 2 tingkat Pulau Sumatera dengan nilai APM SMA tahun 2025 sebesar 71,57 Persen. Meskipun nilai ini lebih tinggi 1,17 poin persen dibandingkan Sumatera Utara, wilayah ini justru mencatat penurunan pertumbuhan sebesar 1,28 persen pada tahun terakhir. Pertumbuhan negatif ini menjadikan jarak nilai antara Sumatera Barat dan Sumatera Utara semakin menyempit setiap tahunnya, dengan selisih yang awalnya mencapai lebih dari 8 poin persen pada dekade 2000-an.
Aceh
Aceh berada di peringkat 4 tingkat Pulau Sumatera dengan nilai APM SMA 2025 sebesar 70,36 Persen. Nilai ini hanya terpaut 0,04 poin persen dibawah catatan Sumatera Utara, dengan penurunan pertumbuhan sebesar 0,82 persen pada tahun terakhir. Posisi Aceh berada tepat dibawah Sumatera Utara dalam daftar peringkat pulau, menjadikan kedua provinsi ini bersaing sangat ketat untuk posisi tiga besar terbaik di wilayah Sumatera untuk indikator partisipasi pendidikan SMA.
Bengkulu
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kota Kediri | 2004 - 2025)
Bengkulu mencatat nilai APM SMA tahun 2025 sebesar 69,32 Persen dan menempati peringkat 5 tingkat Pulau Sumatera. Wilayah ini mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,26 persen pada tahun terakhir, meskipun masih tertinggal 1,08 poin persen dibawah catatan Sumatera Utara. Pertumbuhan stabil yang dicatatkan Bengkulu selama 3 tahun terakhir membuat wilayah ini berpotensi mengejar posisi provinsi di atasnya pada tahun-tahun mendatang.
Jawa Timur
Jawa Timur menempati peringkat 7 secara nasional dengan nilai APM SMA tahun 2025 sebesar 70,64 Persen. Wilayah pulau Jawa ini mencatat pertumbuhan sangat tinggi sebesar 9,06 persen pada tahun terakhir, menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi secara nasional untuk indikator ini. Nilai Jawa Timur hanya lebih tinggi 0,24 poin persen dibandingkan Sumatera Utara, dengan selisih peringkat nasional hanya 2 tingkat antara kedua provinsi tersebut.
DKI Jakarta
DKI Jakarta berada di peringkat 11 secara nasional dengan nilai APM SMA tahun 2025 sebesar 69,9 Persen. Ibu kota negara ini mencatat pertumbuhan sebesar 7,79 persen pada tahun terakhir, menjadi salah satu provinsi dengan peningkatan tercepat. Nilai DKI Jakarta berada 0,5 poin persen dibawah catatan Sumatera Utara, dengan perbedaan peringkat nasional sebanyak 2 tingkat dibawah posisi Sumatera Utara.
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Barat menempati peringkat 8 secara nasional dengan nilai APM SMA tahun 2025 sebesar 70,43 Persen. Wilayah ini mencatat penurunan pertumbuhan sebesar 0,93 persen pada tahun terakhir, meskipun masih mempertahankan posisi di 10 besar nasional. Nilai Nusa Tenggara Barat hanya terpaut sangat sedikit 0,03 poin persen diatas catatan Sumatera Utara, menjadikan persaingan peringkat nasional antara kedua wilayah sangat ketat.