Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data PDRB Pengeluaran Perubahan Inventori Kalimantan Timur harga konstan 2010 hingga akhir tahun 2025. Pada tahun 2025, nilai indikator ini tercatat sebesar 53,05 Rp juta, menjadi nilai terendah sepanjang periode pengamatan 16 tahun sejak 2010. Dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi penurunan sebesar 346,7 Rp juta dengan kontraksi pertumbuhan sebesar 86,73 persen. Seluruh periode data menunjukkan tren turun konsisten dengan rata-rata pertumbuhan tahunan negatif sebesar 21,22 persen.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Aceh Barat Daya | 2004 - 2025)
Pada periode historis, nilai tertinggi indikator ini pernah dicapai pada tahun 2014 dengan nilai 5836,97 Rp juta. Setelah tahun tersebut, nilai mengalami penurunan besar secara bertahap, meskipun sempat terjadi kenaikan sedikit pada tahun 2020, 2023 dan 2024. Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir tercatat minus 10,93 persen, lebih buruk dibanding rata-rata seluruh periode yang hanya minus 3,61 persen. Sementara rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir bahkan mencapai minus 20,24 persen.
Untuk posisi peringkat, Kalimantan Timur pada tahun 2025 menempati urutan ke-5 dari seluruh provinsi di Pulau Kalimantan. Peringkat ini mengalami penurunan drastis, dimana pada periode 2010 hingga 2017 provinsi ini secara konsisten menempati peringkat pertama di pulau yang sama. Secara nasional, Kalimantan Timur saat ini berada di peringkat 27 dari seluruh provinsi di Indonesia, turun dari peringkat ke-6 yang pernah dicapai pada tahun 2013 dan 2014.
Kalimantan Selatan
Kalimantan Selatan mencatatkan nilai PDRB Perubahan Inventori tahun 2025 sebesar 114,85 Rp juta, menempati peringkat ke-4 di wilayah Pulau Kalimantan dan peringkat 25 secara nasional. Wilayah ini mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 127,54 persen pada tahun berjalan, dengan selisih penurunan nilai sebesar 531,92 Rp juta dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai yang dicapai Kalimantan Selatan masih lebih tinggi lebih dari dua kali lipat dibanding nilai yang tercatat untuk Kalimantan Timur pada periode yang sama.
Banten
Provinsi Banten yang berada di wilayah Pulau Jawa tercatat memiliki nilai indikator ini sebesar 129,58 Rp juta pada tahun 2025, dengan pertumbuhan positif sebesar 10,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peringkat Banten berada di urutan ke-24 secara nasional dan urutan ke-6 di wilayah Pulau Jawa. Nilai ini menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh daftar provinsi perbandingan yang tercatat, dengan selisih kenaikan nilai tahunan sebesar 12,66 Rp juta.
Maluku Utara
(Baca: PDRB ADHK Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang di Sulawesi Utara | 2025)
Maluku Utara mencatatkan nilai PDRB Perubahan Inventori tahun 2025 sebesar 87,2 Rp juta, dengan pertumbuhan negatif sebesar 69,69 persen dibanding periode sebelumnya. Wilayah ini menempati peringkat ke-2 di Pulau Maluku dan peringkat 26 secara nasional. Penurunan nilai yang terjadi di Maluku Utara mencapai 200,53 Rp juta, meskipun demikian nilai yang dicapai masih lebih tinggi dibandingkan nilai akhir Kalimantan Timur pada tahun yang sama.
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Bangka Belitung tercatat memiliki nilai indikator ini sebesar 29,15 Rp juta pada tahun 2025, dengan kontraksi pertumbuhan sangat besar mencapai 388,33 persen. Wilayah ini menempati peringkat ke-8 di Pulau Sumatera dan peringkat 28 secara nasional. Peringkat nasional wilayah ini berada satu tingkat dibawah peringkat Kalimantan Timur, dengan selisih nilai sekitar 23,9 Rp juta lebih rendah dibanding Kalimantan Timur.
Sulawesi Utara
Sulawesi Utara mencatatkan nilai PDRB Perubahan Inventori tahun 2025 sebesar 7,12 Rp juta, mengalami penurunan sedikit sebesar 8,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah ini menempati peringkat ke-6 di Pulau Sulawesi dan peringkat 29 secara nasional. Pertumbuhan wilayah ini merupakan yang paling stabil dibandingkan seluruh provinsi dalam daftar perbandingan, dengan perubahan nilai hanya sebesar minus 0,66 Rp juta.
Sumatera Selatan
Sumatera Selatan tercatat memiliki nilai indikator negatif sebesar minus 2,86 Rp juta pada tahun 2025, menjadi satu-satunya wilayah dalam daftar perbandingan yang mencatatkan nilai minus. Wilayah ini mengalami kontraksi sebesar 176,27 persen, menempati peringkat ke-9 di Pulau Sumatera dan peringkat paling bawah yaitu peringkat 30 secara nasional.