Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data triwulanan PDRB ADHK Sektor Pengadaan Listrik dan Gas Jawa Barat periode Maret 2026 yang tercatat sebesar 1440,46 Rp miliar. Pada kuartal terakhir ini, sektor mengalami penurunan sebesar 5,79 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Dalam catatan historis sejak 2010, data menunjukkan rata-rata pertumbuhan keseluruhan sebesar 0,35 persen per kuartal, namun rata-rata pertumbuhan 3 kuartal terakhir tercatat negatif -0,31 persen, dan sedikit membaik pada rata-rata 5 kuartal terakhir yang tercatat -0,11 persen.
(Baca: Update 2024: Jumlah Perceraian Jawa Tengah 21,83 Ribu Kasus)
Sepanjang 65 periode data sejak kuartal pertama 2010, nilai tertinggi sektor ini di Jawa Barat pernah mencapai 1667,3 Rp miliar pada akhir Desember 2016, sedangkan titik terendah tercatat pada pertengahan Juni 2020 dengan nilai 1137,83 Rp miliar. Selama periode tersebut tercatat 36 kali terjadi kenaikan nilai dan 28 kali penurunan, tanpa ada periode stagnan. Posisi nilai terakhir saat ini berada di atas rata-rata historis keseluruhan yang sebesar 1417,55 Rp miliar.
Pada kuartal Maret 2026, Jawa Barat menempati peringkat kedua di wilayah Pulau Jawa, di bawah Jawa Timur yang mencatatkan nilai 1695 Rp miliar. Secara nasional posisi yang sama juga dipegang, yakni peringkat kedua seluruh Indonesia. Dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa, Banten berada di peringkat ketiga dengan nilai 1040,31 Rp miliar, disusul DKI Jakarta pada urutan keempat. Pertumbuhan Jawa Barat pada kuartal ini sedikit lebih baik dibandingkan DKI Jakarta yang mengalami penurunan 7,28 persen, namun lebih buruk dibandingkan Banten yang turun 4,13 persen.
Jawa Timur
Jawa Timur menempati posisi pertama tertinggi di Pulau Jawa dan juga peringkat pertama nasional pada kuartal Maret 2026 untuk sektor ini, dengan nilai PDRB tercatat 1695 Rp miliar. Wilayah ini mengalami penurunan sebesar 5,96 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, angka penurunan ini sedikit lebih dalam dibandingkan Jawa Barat. Nilai ini menunjukan selisih sebesar 254,54 Rp miliar di atas nilai yang dicatatkan Jawa Barat pada periode yang sama, dan tetap mempertahankan dominasi posisi teratas yang sudah dipegang pada periode sebelumnya.
Jawa Barat
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Kolaka Utara | 2005 - 2025)
Dengan nilai 1440,46 Rp miliar, Jawa Barat kokoh berada di urutan kedua baik di tingkat Pulau Jawa maupun nasional pada kuartal terakhir. Penurunan sebesar 5,79 persen yang terjadi merupakan penurunan terbesar kedua diantara empat provinsi di Pulau Jawa. Rata-rata pertumbuhan 5 kuartal terakhir wilayah ini tercatat minus 0,11 persen, posisi nilai saat ini masih berada 22,93 Rp miliar di atas nilai median historis wilayah ini sejak 2010.
Banten
Banten menempati urutan ketiga di Pulau Jawa dan peringkat ketiga nasional, dengan pencatatan nilai 1040,31 Rp miliar pada kuartal Maret 2026. Wilayah ini mencatatkan penurunan sebesar 4,13 persen, merupakan performa pertumbuhan terbaik diantara seluruh provinsi di Pulau Jawa pada periode ini. Nilai yang dicapai Banten tercatat hampir 400 Rp miliar lebih rendah dibandingkan nilai Jawa Barat, namun angka pertumbuhannya menunjukan tekanan penurunan yang lebih ringan dibandingkan dua wilayah teratas.
DKI Jakarta
DKI Jakarta berada di urutan keempat di wilayah Pulau Jawa dan peringkat keempat secara nasional, dengan nilai PDRB sektor ini tercatat 676,1 Rp miliar. Ibu kota negara mengalami penurunan terbesar diantara seluruh wilayah Pulau Jawa pada kuartal ini, yakni sebesar 7,28 persen dibandingkan periode sebelumnya. Nilai ini hanya mencapai sekitar 47 persen dari nilai yang berhasil dicatatkan oleh Jawa Barat pada periode triwulanan yang sama.
Kepulauan Riau
Kepulauan Riau merupakan satu-satunya wilayah di luar Pulau Jawa yang masuk dalam lima besar nasional, menempati peringkat kelima seluruh Indonesia dengan nilai 608,17 Rp miliar. Wilayah Sumatera ini mencatatkan penurunan sebesar 6,31 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, angka penurunan ini sedikit lebih dalam dibandingkan yang dialami Jawa Barat. Nilai yang dicapai wilayah ini masih berada sekitar 832 Rp miliar di bawah pencapaian Jawa Barat pada periode Maret 2026.