Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHB Sektor Perdagangan Besar dan Eceran non kendaraan roda dua dan empat Provinsi Papua pada akhir tahun 2025 mencapai 12.815,72 Rp miliar. Sepanjang periode 2010 hingga 2025, sektor ini secara umum mencatat tren kenaikan dengan total peningkatan sebesar 125,35% selama 16 tahun, atau rata-rata tumbuh 5,57% setiap tahunnya. Pada tahun 2025, sektor ini tumbuh sebesar 5,93% dibandingkan tahun 2024, dengan penambahan nilai sebesar 717,34 Rp miliar.
Selama 16 tahun periode pengamatan, tercatat pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2015 dengan laju pertumbuhan 19,92%, sedangkan penurunan terbesar dan satu-satunya penurunan terjadi pada tahun 2023 dengan kontraksi turun 44,71% yang menjadi anomali data historis. Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir tercatat turun 10,78%, angka ini jauh lebih buruk dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir yang tercatat turun 3,33%, juga berada jauh di bawah rata-rata pertumbuhan keseluruhan periode sebesar 7,02%.
Provinsi Papua secara konsisten menempati peringkat pertama di wilayah Pulau Papua sepanjang seluruh periode pengamatan mulai tahun 2010 hingga 2025. Sementara untuk peringkat nasional, setelah sebelumnya secara konsisten berada di kisaran peringkat 15 hingga 18 selama 13 tahun berturut-turut, posisi Papua turun drastis ke peringkat 28 tingkat nasional mulai tahun 2023 dan bertahan di posisi tersebut hingga tahun 2025.
Kep. Bangka Belitung
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menempati peringkat 25 tingkat nasional untuk indikator ini pada tahun terakhir, dengan nilai PDRB sektor perdagangan mencapai 16.779,85 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 11,94% pada periode terakhir, dengan penambahan nilai sebesar 1.790,32 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ini berada di atas capaian Provinsi Papua, dengan selisih nilai hampir 4.000 Rp miliar, serta menempati peringkat ke 9 di wilayah Pulau Sumatera.
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur menempati posisi peringkat 3 di wilayah Nusa Tenggara dan Bali, serta peringkat 26 secara nasional. Nilai PDRB sektor perdagangan besar eceran wilayah ini tercatat 16.236,62 Rp miliar pada tahun terakhir, dengan laju pertumbuhan mencapai 18,05% atau menjadi pertumbuhan tertinggi di antara seluruh provinsi yang dibandingkan. Pertumbuhan ini didukung dengan penambahan nilai sebesar 2.482,28 Rp miliar dibandingkan periode tahun sebelumnya.
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta tercatat menempati peringkat ke 6 di wilayah Pulau Jawa, dan peringkat 27 tingkat nasional untuk indikator PDRB sektor perdagangan ini. Nilai tahun terakhir wilayah ini mencapai 14.175,41 Rp miliar, tumbuh sebesar 8,03% dengan penambahan nilai sebesar 1.053,74 Rp miliar. Meskipun pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan dua provinsi sebelumnya, nilai capaian Yogyakarta masih tercatat lebih tinggi sekitar 1.300 Rp miliar dibandingkan capaian Provinsi Papua pada tahun 2025.
Bengkulu
Provinsi Bengkulu menempati peringkat ke 10 di wilayah Pulau Sumatera, dan menduduki peringkat 29 secara nasional tepat berada satu tingkat di bawah posisi Provinsi Papua. Nilai PDRB sektor perdagangan Bengkulu tercatat 11.662,46 Rp miliar pada tahun terakhir, tumbuh sedikit sebesar 5,6% dengan penambahan nilai sebesar 618,51 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ini tercatat sekitar 1.100 Rp miliar lebih rendah dibandingkan capaian Papua pada periode yang sama.
Maluku Utara
Maluku Utara menempati posisi pertama teratas di seluruh wilayah Pulau Maluku untuk indikator ini, namun berada di peringkat 30 tingkat nasional. Nilai PDRB sektor perdagangan wilayah ini tercatat 10.957,72 Rp miliar pada tahun terakhir, dengan pertumbuhan mencapai 13,16% atau penambahan nilai sebesar 1.274,68 Rp miliar. Angka pertumbuhan Maluku Utara ini tercatat dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan Papua pada tahun 2025.
Gorontalo
Provinsi Gorontalo menempati peringkat ke 5 di wilayah Pulau Sulawesi, dan menjadi peringkat terbawah yaitu posisi 31 secara nasional untuk indikator PDRB sektor perdagangan besar eceran non kendaraan ini. Nilai tahun terakhir Gorontalo tercatat 7.871,13 Rp miliar, tumbuh sebesar 12,52% dengan penambahan nilai sebesar 876,12 Rp miliar dibandingkan periode tahun sebelumnya.