Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase rumah tangga perdesaan Sulawesi Selatan yang menyewa atau mengontrak rumah pada tahun 2025 berada di angka 0,30 persen. Angka ini merupakan nilai terendah sepanjang catatan historis sejak tahun 2009, menurun sebesar 31,82 persen dibandingkan tahun 2024. Selama 17 tahun periode pencatatan, tren nilai indikator ini secara konsisten menunjukkan arah turun, dengan total penurunan keseluruhan mencapai 62,96 persen atau rata-rata penurunan 6,02 persen setiap tahunnya.
(Baca: Jumlah Penduduk yang Bekerja di Sektor Formal di Papua Barat | 2024)
Selama 5 tahun terakhir, indikator ini mengalami rata-rata penurunan sebesar 10,67 persen setiap tahun, kondisi ini memburuk dibandingkan rata-rata penurunan 3 tahun terakhir yang tercatat sebesar 4,44 persen. Kenaikan tertinggi sepanjang sejarah terjadi pada tahun 2016 dengan pertumbuhan 73,91 persen, sedangkan penurunan terbesar tercatat pada tahun 2012 dengan penurunan 35,23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, Sulawesi Selatan menempati peringkat ke 5 dari seluruh provinsi di Pulau Sulawesi, dan peringkat 32 secara nasional.
Maluku
Maluku menempati peringkat ke 2 secara wilayah pulau dan peringkat 30 nasional untuk indikator yang sama pada periode tahun terakhir, dengan nilai persentase sewa rumah perdesaan tercatat 0,36 persen. Wilayah ini mengalami penurunan sebesar 68,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikan penurunan ini salah satu yang terbesar diantara seluruh wilayah perbandingan. Nilai 0,36 persen ini lebih tinggi 0,06 poin persen dibandingkan catatan Sulawesi Selatan pada tahun yang sama, dengan selisih peringkat nasional sebanyak 2 tingkat diatas Sulawesi Selatan.
Jawa Timur
Jawa Timur mencatat nilai persentase sewa rumah perdesaan sebesar 0,36 persen, sama persis dengan catatan Maluku pada tahun terakhir. Wilayah ini menempati peringkat ke 2 di wilayah Pulau Jawa dan peringkat 30 secara nasional, sejajar dengan Maluku. Berbeda dengan Maluku, Jawa Timur justru mencatat pertumbuhan positif sebesar 24,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi satu dari hanya dua wilayah perbandingan yang berhasil mencatat pertumbuhan positif pada indikator ini periode terbaru.
(Baca: Nilai Ujian Tes Terstandar Masuk ke SMA13 Kota Depok 2025)
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Barat menempati peringkat ke 3 di wilayah Nusa Tenggara dan Bali serta peringkat 33 secara nasional, dengan nilai indikator sebesar 0,27 persen. Wilayah ini mencatat pertumbuhan positif tertinggi diantara seluruh wilayah perbandingan, yaitu sebesar 58,82 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya. Nilai 0,27 persen ini berada sedikit dibawah catatan Sulawesi Selatan, dengan selisih peringkat nasional sebanyak 1 tingkat dibawah catatan Sulawesi Selatan tahun 2025.
Banten
Banten mencatat persentase rumah tangga perdesaan yang menyewa rumah sebesar 0,24 persen pada tahun terakhir, menempati peringkat ke 3 di wilayah Pulau Jawa dan peringkat 34 secara nasional. Wilayah ini mengalami penurunan sebesar 22,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan nilai yang tercatat sedikit lebih rendah dibandingkan catatan Nusa Tenggara Barat. Peringkat nasional Banten berada 2 tingkat dibawah posisi Sulawesi Selatan pada periode pencatatan yang sama.
Gorontalo
Gorontalo menjadi wilayah dengan nilai terendah diantara seluruh wilayah perbandingan, yaitu sebesar 0,18 persen pada tahun terakhir. Wilayah yang masuk dalam wilayah Pulau Sulawesi ini menempati peringkat ke 6 di Pulau Sulawesi dan peringkat 35 secara nasional, mengalami penurunan terbesar sebesar 78,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ini berada 0,12 poin persen dibawah catatan Sulawesi Selatan, menjadi provinsi di Pulau Sulawesi dengan nilai indikator terendah periode 2025.