Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi global kembali terjadi.
Hasil olah data RationalFX, sejak Januari 2026 hingga 12 Februari 2026, ada 30.700 pekerja perusahaan teknologi yang dipecat.
Dibedah menurut perusahaan, terbanyak adalah Amazon dengan 16 ribu pekerja. RationalFX menyebut, jumlah ini menjadi yang terbesar dalam gelombang pemecatan yang pernah dilakukan raksasa e-commerce tersebut.
"Salah satu pemangkasan tenaga kerja terbesar dalam sejarahnya, menyusul 14.000 PHK pada Oktober 2025," tulis Alan Cohen, penulis RationalFX, dalam laporannya.
Manajemen berdalih pemangkasan pekerja untuk menyederhanakan pelaporan, mempercepat pengambilan keputusan, dan meningkatkan efisiensi.
Pemangkasan terjadi di tengah pendapatan Amazon mencapai rekor sebesar US$716,9 miliar pada 2025, naik 12% dari 2024 dengan pertumbuhan AWS yang eksplosif.
Selain itu, adanya investasi besar-besaran yang berkelanjutan dalam kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)dan infrastruktur cloud, termasuk proyeksi pengeluaran modal sebesar US$200 miliar untuk tahun 2026 saja.
(Baca: 10 Aplikasi Belanja Online Terpopuler di Dunia pada 2025)
Selanjutnya, ada PHK dari Ericsson, Meta Platforms, Pinterest, hingga Playtika dalam daftar 10 besar. Berikut rinciannya:
- Amazon: 16.000 pekerja
- Ericsson: 1.900 pekerja
- ASML: 1.700 pekerja
- Meta Platforms: 1.500 pekerja
- Block Inc.: 1.100 pekerja
- Autodesk: 1.000 pekerja
- Salesforce: 1.000 pekerja
- Pinterest: 677 pekerja
- Ola Electric: 620 pekerja
- Playtika: 500 pekerja.
Menurut penulis, pada 2025, otomatisasi, integrasi AI serta kebijakan disiplin biaya yang berkelanjutan menjadi pendorong utama pengurangan tenaga kerja.
"Banyak departemen direstrukturisasi atau bahkan dihapus, digantikan oleh alur kerja yang lebih ramping dan didukung AI. Tren ini terus berlanjut secara penuh memasuki 2026," tulisnya.
(Baca: Angka PHK Buruh Indonesia Sepanjang 2014-2025)