Menurut laporan lembaga keuangan global, J.P. Morgan Private Bank, ada sembilan krisis di Timur Tengah selama periode 1956-2026 yang mengakibatkan terganggunya pasokan minyak dunia.
Peristiwa pertama yang tercatat mengganggu pasokan minyak global adalah Krisis Suez 1956-1957, yakni saat Pemerintah Mesir mengambil alih jalur tersebut.
Krisis itu diperkirakan mengakibatkan 10% pasokan minyak global terganggu.
Namun, dari sembilan krisis yang terjadi di Timur Tengah, perang Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026 paling berdampak terhadap pasokan minyak global.
Konflik yang oleh J.P. Morgan Private Bank disebut sebagai Perang Teluk III ini, diperkirakan mengganggu 20% pasar minyak global.
Sampai artikel ini ditulis, belum ada kesepakatan konkret untuk mengakhiri perang tersebut, selain gencatan senjata.
J.P. Morgan Private Bank menjelaskan, sebelum perang meletus, volume minyak mentah dan produk olahan yang melalui Selat Hormuz—di antara Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab—sekitar 21 juta barel per hari.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1,8 juta barel dari Iran masih mengalir dan 4-5 juta barel telah dialihkan melalui terminal Laut Merah dan Fujairah.
“Jika demikian, ini akan menjadi gangguan terbesar dalam hal volume barel dan persentase kapasitas cadangan sejak Perang Dunia II,” jelas J.P. Morgan Private Bank dalam Pandora’s Bog: the Global Energy Shock of 2026.
Berikut perkiraan persentase gangguan pasokan minyak global karena krisis di Timur Tengah, diurutkan secara kronik berdasarkan tahun peristiwa paling awal:
- Krisis Suez (1956-1957): 10%
- Perang Enam Hari (1967): 5%
- Embargo Minyak Arab (1973): 7%
- Revolusi Iran (1978-1979): 5%
- Perang Iran-Irak (1980-1988): 5%
- Perang Teluk I (1990-1991): 9%
- Perang Teluk II (2003-2011): 7%
- Abqaiq (2019): 5%
- Perang Teluk III (2026-saat ini): 20%.
(Baca: Perbandingan Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Sebelum dan Sesudah Perang)