Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), konsumsi aviation turbine fuel (avtur) di sektor transportasi Indonesia bertambah pada 2024.
Kementerian ESDM mendefinisikan avtur sebagai bahan bakar turbin penerbangan, bahan bakar khusus untuk pesawat turbin/jet, atau kerosin khusus dengan rentang distilasi 150°C—250°C.
Hal itu sebagaimana tercantum dalam laporan Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2024.
Pada 2024, konsumsi avtur di sektor transportasi sebanyak 4,58 juta kiloliter (kl), naik 5,65% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Bertambahnya konsumsi avtur pada 2024 sekaligus menandai kenaikan selama tiga tahun yang terjadi sejak 2022, sebagaimana terlihat pada grafik.
Namun, jika merujuk data selama periode 2014-2024, konsumsi avtur di sektor transportasi Indonesia tertinggi terjadi pada 2018 yang mencapai 5,72 juta kl.
Diberitakan sebelumnya, Pertamina menaikkan harga avtur untuk penerbangan domestik dan internasional. Kenaikan yang terjadi merupakan harga perbandingan periode 1-31 Maret 2026 dan 1-30 April 2026.
Berdasarkan data Pertamina, harga avtur di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta untuk penerbangan domestik sebelumnya Rp13.656,51 per liter, kini menjadi Rp23.551,08 per liter atau naik 72,45%.
Adapun untuk penerbangan internasional harganya naik 80,32%, dari US$0,742 per liter menjadi US$1,338 per liter.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan nasional di Indonesia (Inaca), Denon Prawiraatmadja, mengatakan kenaikan ini sesuai dengan perkiraan sebelumnya.
“Harga avtur akan naik mengikuti harga di tingkat global karena imbas krisis geopolitik di Timur Tengah,” kata Denon dalam siaran pers, Rabu (1/4/2026), dikutip dari Katadata.co.id.
(Baca: 15 Bandara di Indonesia dengan Harga Avtur Termahal per Maret 2026)