Menurut data Bank Dunia, rata-rata harga minyak mentah di pasar global pada tahun 2025 mencapai US$67,4/barel.
Harganya turun sekitar 14% dibanding rata-rata harga setahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Bank Dunia menilai turunnya harga minyak pada tahun 2025 dipengaruhi oleh berkurangnya tingkat konsumsi, sedangkan pasokan melimpah.
"Penurunan tajam harga minyak pada tahun 2025 mencerminkan pertumbuhan permintaan minyak yang lambat di China dan kelebihan pasokan global," kata Bank Dunia dalam laporan Commodity Markets Outlook edisi Oktober 2025.
Namun, penurunan harga minyak pada tahun 2025 masih relatif ringan dibanding beberapa dekade lalu.
Penurunan lebih dalam pernah terjadi pada tahun 1986 dan 2015, ketika rata-rata harga minyak dunia merosot 47% (yoy).
(Baca: Proyeksi Harga Minyak Dunia Tahun 2026 dari World Bank)
Di sisi lain, lonjakan harga minyak paling tinggi pernah terjadi pada tahun 1974, saat rata-rata harganya meroket 291% (yoy).
Kenaikan tajam juga terjadi pada tahun 1979, saat rata-rata harganya melambung 140% (yoy).
Menurut Bank Dunia, lonjakan harga minyak kerap dipengaruhi oleh konflik yang melibatkan negara-negara produsen minyak di Timur Tengah.
"Berbagai peristiwa geopolitik di Timur Tengah sejak awal 1970-an, yang kerap ditandai dengan konflik militer, telah mempengaruhi pasokan minyak dunia, mengakibatkan lonjakan harga minyak, dan meningkatkan volatilitas," kata Bank Dunia dalam laporan Commodity Markets Outlook edisi Oktober 2023.
Namun, menurut Bank Dunia, konflik Timur Tengah yang terjadi setelah tahun 2000-an dampaknya lebih ringan dibanding konflik-konflik terdahulu.
"Kondisi pasar kini sudah sangat berbeda. Perekonomian global kurang bergantung pada minyak; pemasok minyak lebih terdiversifikasi; beberapa negara punya stok minyak strategis; pasar berjangka membantu proses penentuan harga; dan IEA (Badan Energi Internasional) membantu merumuskan respons terhadap guncangan harga energi," kata Bank Dunia.
"Dengan adanya hal-hal tersebut, eskalasi konflik terbaru di Timur Tengah akan berdampak lebih moderat dibanding yang terjadi pada masa lalu," lanjutnya.
(Baca: Ini Deretan Konflik Timur Tengah yang Guncang Pasar Minyak Global)