Pemerintah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1/2026).
Menurut siaran pers kantor presiden AS, The White House, penangkapan Maduro merupakan bagian dari upaya AS dalam memerangi peredaran narkoba.
"Kami sedang berperang melawan organisasi perdagangan narkoba, bukan perang melawan Venezuela," kata Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam siaran pers, Minggu (4/1/2026).
"Maduro bukan hanya seorang terpidana perdagangan narkoba, dia adalah presiden yang tidak sah," kata Marco.
Ia juga menyatakan, AS menangkap Maduro agar industri minyak Venezuela tidak dimanfaatkan untuk membantu pihak-pihak yang berseberangan dengan AS.
"Kami ingin Venezuela bergerak ke arah tertentu, karena kami tidak hanya berpikir itu baik untuk rakyat Venezuela, tapi juga demi kepentingan nasional kami," kata Marco.
"Tidak ada lagi penggunaan industri minyak untuk memperkaya semua musuh kami di seluruh dunia," ujarnya.
(Baca: Venezuela, Negara Pemilik Cadangan Minyak Terbesar Global pada 2024)
Venezuela memang tercatat sebagai negara pemilik cadangan minyak terbesar secara global. Namun, ekspor minyak dari Venezuela tergolong kecil.
Menurut data Trade Map, Venezuela mengekspor minyak mentah (kode HS 2709) senilai US$9,85 miliar pada 2024.
Angka tersebut hanya 0,9% dari total nilai ekspor minyak mentah global, menjadikan Venezuela sebagai eksportir minyak peringkat ke-22 di dunia.
Pada 2024, negara pembeli minyak terbesar dari Venezuela adalah AS, nilainya mencapai US$5,88 miliar atau 60% dari total nilai ekspor minyak mentah Venezuela.
Negara lain yang tercatat membeli minyak mentah dari Venezuela pada 2024 adalah India, Spanyol, China, Italia, dan Polandia, dengan nilai seperti terlihat pada grafik.
(Baca: Cadangan Minyak Venezuela Besar, tapi Ekspornya Kecil)