Menurut data Bank Indonesia (BI), volume ekspor SITC kode 28 bijih logam dan sisa-sisa logam di Maluku Utara pada Juli 2025 tercatat 94,84 juta ton. Angka ini naik dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat 113,36 juta ton. Sebelumnya menurut rekam jejak 11 tahun terakhir, rekor pertumbuhan tertinggi di Maluku Utara pernah terjadi pada April 2024 dengan pertumbuhan sebesar 121% dan untuk rata-rata dalam enam tahun terakhir yakni sebesar 3,24%.
Daftar 10 Terbesar:
(Baca: Provinsi Sumatera Barat Ekspor 272,57 Juta Ton Minyak dan Lemak Nabati)
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), total volume ekspor SITC kode 28 bijih logam dan sisa-sisa logam seluruh Indonesia pada Juli 2025 mencapai 289,89 juta ton.
Volume ekspor SITC kode 28 bijih logam dan sisa-sisa logam tersebut turun 22.25% dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), Papua tercatat dengan volume ekspor SITC kode 28 bijih logam dan sisa-sisa logam terbanyak, yaitu 110,01 juta ton. Volume ekspor SITC kode 28 bijih logam dan sisa-sisa logam di Papua saat ini setara dengan 37,95% dari total seluruh provinsi.
(Baca: Indonesia Paling Banyak Ekspor Mineral Fuels, Mineral Oils ke Fiji pada 2023)
Setelahnya Maluku Utara di urutan kedua. Dibandingkan dengan periode yang sama bulan sebelumnya, volume ekspor SITC kode 28 bijih logam dan sisa-sisa logam di provinsi ini tumbuh 9,43%. Jumlah volume ekspor SITC kode 28 bijih logam dan sisa-sisa logam di provinsi ini dilaporkan 94,84 juta ton. Adapun untuk periode sebelumnya tercatat sebanyak 80,31 juta ton.
Berikutnya, volume ekspor SITC kode 28 bijih logam dan sisa-sisa logam di Sulawesi Tengah naik 66,52% menjadi 83,75 juta ton dibandingkan dengan periode yang sama bulan sebelumnya dan Kalimantan Tengah dengan volume ekspor SITC kode 28 bijih logam dan sisa-sisa logam 1,3 juta ton (turun 89,71%)
Berikut ini sepuluh provinsi dengan volume ekspor SITC kode 28 bijih logam dan sisa-sisa logam tertinggi pada Juli 2025:
- Papua 110,01 juta ton
- Maluku Utara 94,84 juta ton
- Sulawesi Tengah 83,75 juta ton
- Kalimantan Tengah 1,3 juta ton