Nilai ekspor SITC kode 22 biji-bijian mengandung minyak di Kalimantan Barat tercatat -29.63%. Angka ini turun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat 5.160 ton data per Januari 2026. Menurut rekam jejaknya, pertumbuhan tertinggi di provinsi ini sebelumnya pernah terjadi pada Juni 2025 sebesar 95,77%. Adapun dalam enam tahun terakhir, nilai ekspor SITC kode 22 biji-bijian mengandung minyak tercatat dengan rata-rata pertumbuhan turun 0,12%
Daftar 10 Terbesar:
(Baca: Harga Daging Ayam Ras Segar di Pasar Modern Periode April 2025-2026)
Menurut publikasi Bank Indonesia (BI), data per Januari 2026, nilai ekspor SITC kode 22 biji-bijian mengandung minyak jika ditotal untuk 10 provinsi teratas besarnya mencapai 1,73 juta ton. Nilai dari jumlah 10 provinsi tersebut, proporsinya mencapai 100% dari total seluruh provinsi.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), Sulawesi Tengah tercatat dengan nilai ekspor SITC kode 22 biji-bijian mengandung minyak terbanyak, yaitu 1,47 juta ton. nilai ekspor SITC kode 22 biji-bijian mengandung minyak di Sulawesi Tengah saat ini setara dengan 84,8% dari total seluruh provinsi.
(Baca: Nilai Ekspor Karet Mentah Sintetis dan Pugaran Provinsi Kep. Bangka Belitung Januari 2026)
Berikutnya adalah Jambi yang mencatatkan nilai ekspor SITC kode 22 biji-bijian mengandung minyak 248,13 ribu ton lebih tinggi periode yang sama bulan sebelumnya. Sedangkan untuk data bulanan, nilai ekspor SITC kode 22 biji-bijian mengandung minyak di provinsi ini turun 21,1% dibandingkan dengan sebelumnya.
Kemudian, Nusa Tenggara Timur dengan nilai ekspor SITC kode 22 biji-bijian mengandung minyak 12.300 ton (naik 20%) dan Kalimantan Barat dengan nilai ekspor SITC kode 22 biji-bijian mengandung minyak 2.850 ton (naik 223,86%)
Berikut ini adalah daftar sepuluh provinsi yang mencatatkan nilai ekspor SITC kode 22 biji-bijian mengandung minyak dengan jumlah tertinggi:
- Sulawesi Tengah 1,47 juta ton
- Jambi 248,13 ribu ton
- Nusa Tenggara Barat 69.840 ton
- Kalimantan Tengah 52.530 ton
- Nusa Tenggara Timur 12.300 ton
- Kalimantan Barat 2.850 ton
- Sulawesi Utara 1.250 ton