Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami inflasi tahunan 2,92% (year-on-year/yoy) pada Desember 2025.
Laju inflasi ini menjadi yang tertinggi sepanjang tahun lalu, seperti terlihat pada grafik.
Pada Desember 2025, inflasi atau kenaikan harga tahunan tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Sedangkan deflasi atau penurunan harga tahunan hanya terjadi pada kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.
Berikut rincian inflasi tahunan Indonesia berdasarkan kelompok pengeluaran pada Desember 2025:
- Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya: 13,33% (yoy)
- Makanan, Minuman dan Tembakau: 4,58% (yoy)
- Kesehatan: 1,83% (yoy)
- Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga: 1,62% (yoy)
- Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran: 1,46% (yoy)
- Transportasi: 1,23% (yoy)
- Pendidikan: 1,22% (yoy)
- Rekreasi, Olahraga, dan Budaya: 1,17% (yoy)
- Pakaian dan Alas Kaki: 0,66% (yoy)
- Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga: 0,2% (yoy)
- Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan: -0,28% (yoy)
Komoditas yang dominan memberi andil inflasi tahunan pada Desember 2025 adalah cabai merah, cabai rawit, beras, ikan segar, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, kelapa, kopi bubuk, wortel, minyak goreng, sigaret kretek tangan (SKT), dan sigaret kretek mesin (SKM).
Inflasi juga terjadi pada harga sewa rumah, tarif air minum PAM, bahan bakar rumah tangga, bensin, mobil, akademi/perguruan tinggi, dan emas perhiasan.
Sedangkan komoditas yang memberi andil deflasi tahunan pada Desember 2025 adalah tomat, bawang putih, jengkol, daging babi, sabun cair/cuci piring, pengharum cucian/ pelembut, sabun detergen bubuk, tarif kereta api, telepon seluler, dan sekolah menengah atas.
Pada Desember 2025, seluruh atau 38 provinsi Indonesia mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi terjadi di Aceh dengan laju 6,71% (yoy) dan terendah di Sulawesi Utara 1,23% (yoy).
(Baca: Indonesia, Negara Paling Optimistis dalam Menyambut Tahun Baru 2026)