Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan semester 2025 untuk Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Persentase penduduk miskin tahun ini tercatat 36,94 persen, turun sedikit 0,55 persen dibanding tahun 2024. Jumlah penduduk miskin tercatat 43.550 jiwa, berkurang 180 jiwa dari tahun sebelumnya. Wilayah ini menempati peringkat 4 persentase kemiskinan tertinggi se-Indonesia.
(Baca: Garis Kemiskinan Makanan dan Nonmakanan DKI Jakarta Desember 2025: Naik Jadi Rp.852,77 Ribu per Kapita/Bulan)
Data historis 2009-2025 menunjukkan persentase kemiskinan tertinggi terjadi pada tahun 2009 sebesar 49,20 persen. Titik terendah tercatat pada tahun 2022 dengan angka 36,25 persen. Selama 16 tahun pengamatan, angka kemiskinan mengalami naik turun, namun tetap berada pada jajaran 10 besar persentase kemiskinan tertinggi nasional sejak 2009.
Dari lima kabupaten tetangga di Provinsi Papua Tengah dengan tingkat kemiskinan berdekatan, Kabupaten Puncak menempati urutan ke 4 secara nasional. Hanya Kabupaten Intan Jaya yang memiliki persentase kemiskinan lebih tinggi, sementara tiga kabupaten lainnya mencatatkan angka di bawah Kabupaten Puncak.
Kabupaten Deiyai
Berada di peringkat 3 nasional untuk persentase kemiskinan dengan angka 37,29 persen, turun 4,41 persen pada tahun terakhir. Jumlah penduduk miskin tercatat 29.840 jiwa dari total 80.002 jiwa penduduk. Garis kemiskinan berada di angka 817,17 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita masyarakat mencapai 17,01 juta rupiah per tahun. Wilayah ini mencatatkan penurunan jumlah penduduk sebesar 13,63 persen pada periode yang sama.
Kabupaten Dogiyai
Peringkat 14 secara nasional, mencatatkan persentase kemiskinan 29,34 persen dengan penurunan sebesar 2,30 persen tahun terakhir. Terdapat 29.960 jiwa penduduk miskin dari total 102.098 jiwa penduduk yang tercatat. Pendapatan per kapita wilayah sebesar 13,57 juta rupiah per tahun, sementara garis kemiskinan ditetapkan pada 752,60 ribu rupiah per kapita per bulan. Jumlah penduduk wilayah ini turun 12,52 persen dibanding tahun sebelumnya.
(Baca: 5,86% Penduduk di Kabupaten Wajo Masuk Kategori Miskin)
Kabupaten Intan Jaya
Merupakan kabupaten dengan persentase kemiskinan tertinggi di kelompok ini, berada di peringkat 2 nasional dengan angka 39,21 persen. Angka kemiskinan turun 5,34 persen pada tahun terakhir, dengan 21.370 jiwa penduduk miskin dari total 54.510 jiwa penduduk. Garis kemiskinan mencapai 980,00 ribu rupiah per kapita per bulan, sedangkan pendapatan per kapita masyarakat hanya 10,64 juta rupiah per tahun. Wilayah ini mencatatkan penurunan jumlah penduduk paling besar mencapai 60,41 persen.
Kabupaten Paniai
Berada di peringkat 5 nasional dengan persentase kemiskinan 36,31 persen, turun 2,05 persen pada tahun terakhir. Jumlah penduduk miskin mencapai 63.260 jiwa, merupakan jumlah terbanyak diantara kelompok kabupaten ini dari total 174.210 jiwa penduduk. Pendapatan per kapita wilayah sebesar 23,44 juta rupiah per tahun, sementara garis kemiskinan tercatat 754,36 ribu rupiah per kapita per bulan. Berbeda dengan wilayah lain, jumlah penduduk disini naik 38,52 persen dibanding tahun sebelumnya.
Kabupaten Puncak Jaya
Menempati peringkat 6 nasional untuk persentase kemiskinan dengan angka 35,46 persen, turun 1,34 persen pada periode pengamatan terakhir. Terdapat 48.850 jiwa penduduk miskin dari total 137.761 jiwa penduduk yang tercatat. Wilayah ini memiliki pendapatan per kapita terendah di kelompok ini yaitu 7,52 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan sebesar 933,55 ribu rupiah per kapita per bulan. Jumlah penduduk wilayah ini turun 37,49 persen dibanding tahun sebelumnya.