KLHK: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 117 Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 21 Februari 2025)


Nama Data | Nilai |
---|---|
Maluku Utara | 19 |
Sulawesi Tengah | 18 |
Aceh | 17 |
Kalimantan Barat | 11 |
Sumatera Utara | 9 |
Sulawesi Selatan | 7 |
Riau | 6 |
Kepulauan Riau | 5 |
Kalimantan Utara | 4 |
Kalimantan Tengah | 3 |
- A Font Kecil
- A Font Sedang
- A Font Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 117 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 30 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (21/2/2025) pukul 11.08 WIB. Dari 117 titik panas terdeteksi, 1 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 106 titik skala sedang, dan 10 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Penerima Rumah Susun 2022, Terbanyak Korban Bencana Alam)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Maluku Utara sebanyak 19 titik. Sulawesi Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 18 titik. Aceh berada di posisi ketiga sebanyak 17 titik panas.
Sebanyak 11 titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat, Sumatera Utara menyusul dengan 9 titik panas, serta Sulawesi Selatan dan Riau masing-masing memiliki 7 dan 6 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Ada 2 Ribu Bencana Alam di Indonesia pada 2024, Banjir Mendominasi)