87 Hotspot Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 2 Januari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 87 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 49 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (2/1/2026) pukul 11.36 WIB. Dari 87 titik panas terdeteksi, 87 titik skala sedang.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Area Konsesi di Ekosistem Gambut Rentan Banjir, Terutama Konsesi Sawit)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Maluku Utara sebanyak 39 titik. Sulawesi Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 20 titik. Jambi berada di posisi ketiga sebanyak 8 titik panas.
Sebanyak 6 titik panas terdeteksi di Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur menyusul dengan 3 titik panas, serta Sumatera Selatan dan Jawa Tengah masing-masing memiliki 3 dan 2 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Update Banjir-Longsor di Sumut, 34 Orang Meninggal Dunia)