Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin Kabupaten Tapanuli Utara tahun 2025 berada di angka 7,47 persen. Angka ini turun sebesar 0,74 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 2.220 jiwa dari total 25.510 jiwa menjadi 23.290 jiwa. Pertumbuhan angka kemiskinan wilayah ini tercatat turun 9,01 persen pada periode tahun terakhir.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Balangan | 2004 - 2025)
Sepanjang periode data 2004 sampai 2025, persentase kemiskinan wilayah ini pernah mencapai titik tertinggi pada tahun 2006 sebesar 22,36 persen. Angka terendah sepanjang catatan historis tercatat pada tahun 2025 ini. Pertumbuhan penurunan kemiskinan terbesar terjadi pada tahun 2008 sebesar 29,46 persen, sedangkan kenaikan terbesar terjadi pada tahun 2005 sebesar 13,78 persen.
Ranking persentase kemiskinan Kabupaten Tapanuli Utara secara nasional saat ini berada di urutan 307 dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia. Selama 3 tahun terakhir ranking wilayah ini terus bergeser turun dari urutan 301 pada tahun 2023, tetap di posisi 301 tahun 2024, hingga berada di posisi 307 tahun ini.
Dari 6 kabupaten/kota di Sumatera Utara dengan tingkat kemiskinan berdekatan, Kabupaten Tapanuli Utara mencatat penurunan kemiskinan lebih besar dibandingkan 4 wilayah lain. Hanya Kabupaten Padang Lawas Utara yang mencatat penurunan persentase kemiskinan lebih besar, yaitu sebesar 10,37 persen.
Kabupaten Humbang Hasundutan
Berada di peringkat 294 nasional untuk persentase kemiskinan, wilayah ini mencatat angka 7,8 persen dengan penurunan sebesar 7,58 persen pada tahun terakhir. Jumlah penduduk miskin tercatat 15.620 jiwa, garis kemiskinan berada di angka 503,77 ribu rupiah per kapita per bulan. Pendapatan per kapita masyarakat wilayah ini mencapai 42,16 juta rupiah per tahun, dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 5,54 persen.
Kabupaten Labuhan Batu
Peringkat 309 nasional untuk tingkat kemiskinan, angka persentase di wilayah ini tercatat 7,37 persen dengan penurunan sebesar 5,99 persen tahun lalu. Jumlah penduduk miskin mencapai 40.490 jiwa, angka ini menjadi yang terbesar kedua setelah Kota Medan dari kelompok wilayah perbandingan. Garis kemiskinan tercatat 575,41 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita mencapai 104,03 juta rupiah per tahun.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di Lampung 2015 - 2024)
Kabupaten Mandailing Natal
Dengan peringkat 291 secara nasional, persentase kemiskinan di wilayah ini tercatat 7,91 persen dan mengalami penurunan 8,98 persen pada periode tahun terakhir. Tercatat 37.160 jiwa penduduk masuk kategori miskin, garis kemiskinan berada di angka 537,24 ribu rupiah per kapita per bulan. Pendapatan per kapita masyarakat berada di angka 42,93 juta rupiah per tahun dengan pertumbuhan 6,97 persen.
Kota Medan
Menempati peringkat 315 nasional untuk tingkat kemiskinan, wilayah ini memiliki persentase kemiskinan 7,25 persen dengan penurunan 8,69 persen tahun lalu. Jumlah penduduk miskin mencapai 171.600 jiwa, menjadi angka tertinggi dari seluruh wilayah dalam kelompok perbandingan. Garis kemiskinan tercatat 721,55 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita mencapai 141,41 juta rupiah per tahun.
Kabupaten Padang Lawas Utara
Pada peringkat 286 secara nasional, persentase kemiskinan wilayah ini tercatat 8,04 persen dengan penurunan terbesar di kelompok yaitu 10,37 persen tahun lalu. Terdapat 24.800 jiwa penduduk masuk kategori miskin, garis kemiskinan berada di angka 519,41 ribu rupiah per kapita per bulan. Pendapatan per kapita masyarakat mencapai 68,39 juta rupiah per tahun dengan pertumbuhan 7,62 persen.
Kabupaten Padang Lawas
Berada di peringkat 311 nasional untuk tingkat kemiskinan, wilayah ini mencatat persentase kemiskinan 7,32 persen dengan penurunan sebesar 6,99 persen pada tahun terakhir. Jumlah penduduk miskin tercatat 23.690 jiwa, garis kemiskinan berada di angka 499,76 ribu rupiah per kapita per bulan. Pendapatan per kapita masyarakat mencapai 71,95 juta rupiah per tahun dengan pertumbuhan 10,2 persen, angka pertumbuhan tertinggi dari seluruh kelompok wilayah perbandingan.