9.330 Titik Panas Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Senin, 24 Agustus 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 9.330 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 2295 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (24/8/2026) pukul 11.36 WIB. Dari 9.330 titik panas terdeteksi, 496 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 8386 titik skala sedang, dan 448 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Jumlah Kejadian Bencana Alam di Provinsi-Provinsi Pulau Jawa 2020-2024)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Sumatera Selatan sebanyak 1429 titik. Kalimantan Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 1226 titik. Kalimantan Tengah berada di posisi ketiga sebanyak 811 titik panas.
Sebanyak 576 titik panas terdeteksi di Kalimantan Timur, Riau menyusul dengan 503 titik panas, serta Papua Barat dan Jambi masing-masing memiliki 468 dan 458 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Jumlah Korban Bencana Alam di Indonesia hingga 8 Juli 2025)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Jul) | 2,88% | -0.46 | |
| Inflasi mom (Jul) | -0,14% | -0.58 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.684 | -0.33 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Neraca perdagangan (Jun) | -450,50 | -72.02 | |
| Ekspor Migas (Jun) | 1,07 | +40.52 | |
| Impor Migas (Jun) | 4,56 | +0.96 | |
| Ekspor (Jun) | 25,46 | +9.72 | |
| Impor (Jun) | 25,91 | +4.41 | |
| Kunjungan Wisman (Mei) | 1,38 | +10.69 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |