Kementerian LHK Temukan 247 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Sulawesi Selatan (Selasa, 14 April 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 247 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 21 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Selasa (14/4/2026) pukul 11.35 WIB. Dari 247 titik panas terdeteksi, 7 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 233 titik skala sedang, dan 7 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Jumlah Korban Bencana Alam di Indonesia hingga 8 Juli 2025)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Sulawesi Selatan sebanyak 20 titik. Jambi menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 18 titik. Kalimantan Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 18 titik panas.
Sebanyak 17 titik panas terdeteksi di Jawa Timur, Aceh menyusul dengan 16 titik panas, serta Papua Tengah dan Sulawesi Tenggara masing-masing memiliki 14 dan 14 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Sempat Melonjak, Jumlah Kejadian Bencana Alam di RI Turun pada 2024)