Kemenhut: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 17.706 Dalam 24 Jam Terakhir (Minggu, 18 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 17.706 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 6665 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu (18/10/2026) pukul 11.15 WIB. Dari 17.706 titik panas terdeteksi, 713 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 16610 titik skala sedang, dan 383 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Survei Kurious: Banyak Orang Merasa Kualitas Udara Indonesia Buruk)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Tengah sebanyak 8338 titik. Papua Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 2921 titik. Kalimantan Barat berada di posisi ketiga sebanyak 1119 titik panas.
Sebanyak 913 titik panas terdeteksi di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan menyusul dengan 764 titik panas, serta Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur masing-masing memiliki 705 dan 480 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Kualitas Udara Indonesia Terburuk di ASEAN pada 2022)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18.037 | +0.01 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |