Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan tahun 2024 untuk Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menunjukkan persentase penduduk miskin sedikit turun dari 11,77 persen (2023) menjadi 11,25 persen. Jumlah penduduk miskin juga sedikit turun dari 30.930 orang menjadi 29.740 orang, sementara jumlah penduduk sedikit naik dari 287.315 jiwa menjadi 291.412 jiwa. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun sebesar 4,42 persen, dan wilayah ini berada di urutan ke-196 se-Indonesia untuk indikator ini.
(Baca: Persentase Penduduk yang tidak Memiliki Akses Jaminan Kesehatan Periode 2018-2024)
Dari data historis kemiskinan periode 2004-2024, persentase kemiskinan tertinggi terjadi pada 2006 sebesar 16,54 persen, sedangkan terendah pada 2014 sebesar 7,83 persen. Pertumbuhan kemiskinan terendah terjadi pada 2009 turun 16,43 persen, dan tertinggi pada 2015 sebesar 23,37 persen. Rata-rata persentase kemiskinan 3 tahun terakhir (2022-2024) adalah 11,26 persen, sedikit lebih tinggi dari rata-rata 5 tahun terakhir (2020-2024) yang 11,21 persen. Peringkat se-Indonesia bergeser dari urutan ke-223 (2004) ke 196 (2024), menunjukkan perbaikan posisi dalam mengurangi kemiskinan.
Dibandingkan dengan kabupaten tetangga di NTT yang memiliki persentase kemiskinan berdekatan, Kabupaten Flores Timur berada di posisi tengah. Persentase kemiskinannya lebih tinggi dari Kota Kupang (8,24 persen) tetapi lebih rendah dari Kabupaten Nagekeo (12,3 persen), Kabupaten Ngada (11,87 persen), dan Kabupaten Sikka (11,89 persen). Jumlah penduduk miskinnya lebih banyak dari Kabupaten Nagekeo dan Ngada, tetapi lebih sedikit dari Kota Kupang dan Kabupaten Sikka.
Kota Kupang
Berada di urutan ke-300 se-Indonesia untuk persentase kemiskinan (8,24 persen), wilayah ini memiliki jumlah penduduk miskin 40.380 orang, lebih banyak dibandingkan Kabupaten Flores Timur. Jumlah penduduknya mencapai 455.502 jiwa, lebih besar dari Kabupaten Flores Timur. Garis kemiskinan di sini adalah Rp761,11 ribu per kapita per bulan, jauh lebih tinggi dibandingkan kabupaten lain di sekitarnya. Pendapatan per kapita masyarakat sebesar Rp64,81 juta per tahun, yang merupakan tertinggi di antara kelompok ini. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun sedikit sebesar 4,3 persen, sementara pertumbuhan penduduk naik sedikit sebesar 2,74 persen.
Kabupaten Nagekeo
(Baca: 2,16% Penduduk di Kota Denpasar Masuk Kategori Miskin)
Berada di urutan ke-157 se-Indonesia untuk persentase kemiskinan (12,3 persen), wilayah ini memiliki jumlah penduduk miskin 18.680 orang, lebih sedikit dari Kabupaten Flores Timur. Jumlah penduduknya 165.098 jiwa, lebih kecil dari Kabupaten Flores Timur. Garis kemiskinan di sini adalah Rp487,81 ribu per kapita per bulan, dan pendapatan per kapita sebesar Rp17,05 juta per tahun, yang merupakan terendah di antara kelompok ini. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun sedikit sebesar 0,24 persen, sementara pertumbuhan penduduk turun sedikit sebesar 1,03 persen.
Kabupaten Ngada
Berada di urutan ke-178 se-Indonesia untuk persentase kemiskinan (11,87 persen), wilayah ini memiliki jumlah penduduk miskin 20.480 orang, lebih sedikit dari Kabupaten Flores Timur. Jumlah penduduknya 171.865 jiwa, lebih kecil dari Kabupaten Flores Timur. Garis kemiskinan di sini adalah Rp489,14 ribu per kapita per bulan, dan pendapatan per kapita sebesar Rp25,67 juta per tahun. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun sedikit sebesar 1,58 persen, sementara pertumbuhan penduduk naik sedikit sebesar 0,97 persen.
Kabupaten Sikka
Berada di urutan ke-175 se-Indonesia untuk persentase kemiskinan (11,89 persen), wilayah ini memiliki jumlah penduduk miskin 38.730 orang, lebih banyak dari Kabupaten Flores Timur. Jumlah penduduknya 340.916 jiwa, lebih besar dari Kabupaten Flores Timur. Garis kemiskinan di sini adalah Rp434,07 ribu per kapita per bulan, dan pendapatan per kapita sebesar Rp19,85 juta per tahun. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun sedikit sebesar 5,33 persen, sementara pertumbuhan penduduk naik sedikit sebesar 2,16 persen.