Menurut laporan kantor berita Turki Anadolu Agency, lalu lintas tanker minyak di Selat Hormuz turun tajam, seiring meningkatnya risiko keamanan yang bikin transit kapal nyaris terhenti.
Selat Hormuz berada di Teluk Persia, menghubungkan produksi minyak dan gas alam cair (LNG) Timur Tengah ke pasar global melalui Teluk Oman dan Samudra Hindia.
Sekitar 20% dari konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel, melewati jalur strategis ini.
Sampai 2 Maret 2026, Anadolu melaporkan 706 tanker non-Iran sedang menunggu di kedua sisi Selat Hormuz.
Dari jumlah itu, 334 di antaranya adalah tanker minyak mentah, 263 kapal mengangkut produk minyak bersih, dan 109 tanker membawa produk minyak kotor.
Seluruh tanker tersebut diposisikan di berbagai titik di Teluk Persia (barat selat), Teluk Oman (timur selat), dan Laut Arab.
(Baca: Nilai Impor Migas RI dari Timur Tengah Melalui Selat Hormuz pada Awal 2026)
Situasi ini terjadi setelah Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menutup Selat Hormuz, seusai serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), mengatakan tingkat keamanan maritim untuk Selat Hormuz telah dinaikkan menjadi “kritis”.
“Kategori risiko tertinggi, menyusul konfirmasi beberapa serangan terhadap kapal komersial selama akhir pekan di Teluk Oman, dekat Musandam, dan di perairan pesisir Uni Emirat Arab,” demikian diberitakan Anadolu.
(Baca: Selat Hormuz, Jalur Perdagangan Minyak Terbesar Kedua di Dunia)