23.331 Titik Panas Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Rabu, 7 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 23.331 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 1623 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (7/10/2026) pukul 11.16 WIB. Dari 23.331 titik panas terdeteksi, 1074 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 21549 titik skala sedang, dan 708 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Celios: Karhutla Berpotensi Hilangkan Pajak Daerah Rp269,86 Miliar)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Papua Selatan sebanyak 5391 titik. Kalimantan Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 5242 titik. Sumatera Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 3754 titik panas.
Sebanyak 1368 titik panas terdeteksi di Papua Barat, Kalimantan Barat menyusul dengan 920 titik panas, serta Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing memiliki 851 dan 808 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Indikasi Lahan Terbakar di 6 Provinsi Prioritas Penanganan Karhutla (14 September 2026))
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18 | +0.05 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |