KLHK Temukan 818 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Aceh (Rabu, 28 Januari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 818 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 108 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (28/1/2026) pukul 11.14 WIB. Dari 818 titik panas terdeteksi, 31 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 761 titik skala sedang, dan 26 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Tren Letusan Gunung Berapi dalam Beberapa Tahun Terakhir)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Aceh sebanyak 218 titik. Sulawesi Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 93 titik. Kalimantan Timur berada di posisi ketiga sebanyak 83 titik panas.
Sebanyak 66 titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat, Riau menyusul dengan 55 titik panas, serta Sumatera Utara dan Sumatera Barat masing-masing memiliki 50 dan 48 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Indonesia Punya Gunung Berapi Aktif Terbanyak di Dunia)