Kementerian LHK Deteksi 453 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Kalimantan Barat (Jumat, 30 Januari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 453 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 141 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (30/1/2026) pukul 11.14 WIB. Dari 453 titik panas terdeteksi, 10 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 432 titik skala sedang, dan 11 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Bencana Alam Merusak 220 Ribu Bangunan di Indonesia pada 2025)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 186 titik. Aceh menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 57 titik. Kalimantan Tengah berada di posisi ketiga sebanyak 48 titik panas.
Sebanyak 24 titik panas terdeteksi di Maluku Utara, Kalimantan Timur menyusul dengan 19 titik panas, serta Jawa Timur dan Kepulauan Bangka Belitung masing-masing memiliki 15 dan 13 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Jumlah Rumah Rusak Sedang karena Bencana Alam di Indonesia 2015-2024)