Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan Kota Bima tahun 2024, menunjukkan persentase penduduk miskin sedikit turun dari 8,67 persen tahun sebelumnya menjadi 8,12 persen. Jumlah penduduk miskin turun 720 orang menjadi 15.810 orang, sementara jumlah penduduk sedikit naik menjadi 163.824 jiwa. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun 6,34 persen, dengan peringkat se-Indonesia ke-305 dan di pulau Nusa Tenggara dan Bali ke-31.
(Baca: Penduduk Kabupaten Dogiyai Menghabiskan Rp30 per Kapita per Minggu untuk Membeli Bawang Bombay)
Data historis kemiskinan Kota Bima periode 2004-2024 menunjukkan rata-rata persentase kemiskinan 3 tahun terakhir (2022-2024) sebesar 8,53 persen, sedikit lebih rendah dibanding rata-rata 5 tahun terakhir (2020-2024) yang 8,56 persen. Persentase kemiskinan tertinggi terjadi di 2008 (14,38 persen) dan terendah di 2024 (8,12 persen). Pertumbuhan terendah di 2007 (-15,3 persen) dan tertinggi di 2008 (21,35 persen). Peringkat se-Indonesia fluktuatif: dari 253 di 2004 naik ke 262 di 2005, lalu bergeser hingga 305 di 2024, menunjukkan posisi Kota Bima semakin baik dibanding daerah lain.
Dibandingkan kabkota tetangga di Nusa Tenggara Barat, persentase kemiskinan Kota Bima (8,12 persen) hanya sedikit lebih tinggi dari Kota Mataram (8 persen). Jumlah penduduk miskinnya 15.810 orang, lebih rendah dibanding Dompu (32.080 orang), Lombok Tengah (122.320 orang), Mataram (43.740 orang), dan Sumbawa Barat (21.130 orang). Pertumbuhan jumlah penduduk miskin turun 4,36 persen, lebih tinggi dibanding Dompu (-6,69 persen) namun lebih rendah dibanding Sumbawa Barat (-2,94 persen).
Kabupaten Dompu
Persentase kemiskinan sebesar 11,59 persen, peringkat se-Indonesia ke-189. Jumlah penduduk miskinnya 32.080 orang, dengan jumlah penduduk total 270.664 jiwa. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun 8,16 persen, lebih signifikan dibanding Kota Bima. Pendapatan per kapita sebesar 36,12 juta rupiah per tahun, lebih tinggi dibanding Lombok Tengah namun lebih rendah dibanding Sumbawa Barat. Garis kemiskinan sebesar 469,65 ribu rupiah per kapita per bulan, yang berarti masyarakat harus memiliki pendapatan minimal tersebut untuk keluar dari kemiskinan.
(Baca: Update 2025: PDRB ADHB per Kapita Kabupaten Balangan Rp.163,76 Juta)
Kabupaten Lombok Tengah
Persentase kemiskinan 12,07 persen, peringkat se-Indonesia ke-165. Jumlah penduduk miskinnya mencapai 122.320 orang, yang merupakan jumlah tertinggi di antara kabkota tetangga Kota Bima. Jumlah penduduk totalnya 1.106.619 jiwa, jauh lebih besar dibanding Kota Bima. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun 6,65 persen, sedangkan pendapatan per kapita hanya 20,37 juta rupiah per tahun, yang merupakan terendah di antara kelompok ini. Garis kemiskinan sebesar 549,40 ribu rupiah per kapita per bulan, yang lebih tinggi dibanding Dompu dan Kota Bima.
Kota Mataram
Persentase kemiskinan 8 persen, peringkat se-Indonesia ke-309, yang sedikit lebih rendah dibanding Kota Bima. Jumlah penduduk miskinnya 43.740 orang, dengan jumlah penduduk total 459.683 jiwa. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun 7,19 persen, lebih signifikan dibanding Kota Bima. Pendapatan per kapita sebesar 54,38 juta rupiah per tahun, yang merupakan tertinggi di antara kelompok ini. Garis kemiskinan sebesar 657,67 ribu rupiah per kapita per bulan, yang merupakan tertinggi di antara kabkota tetangga, menunjukkan biaya hidup yang lebih tinggi di kota ini.
Kabupaten Sumbawa Barat
Persentase kemiskinan 12,23 persen, peringkat se-Indonesia ke-160. Jumlah penduduk miskinnya 21.130 orang, dengan jumlah penduduk total 153.575 jiwa. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun 5,56 persen, lebih rendah dibanding Kota Bima. Pendapatan per kapita sebesar 235,09 juta rupiah per tahun, yang sangat jauh lebih tinggi dibanding kabkota lain di kelompok ini. Garis kemiskinan sebesar 611,14 ribu rupiah per kapita per bulan, yang lebih tinggi dibanding Kota Bima dan Dompu.