Kementerian LHK Deteksi 667 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Nusa Tenggara Timur (Rabu, 6 Agustus 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 667 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 264 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (6/8/2025) pukul 11.12 WIB. Dari 667 titik panas terdeteksi, 10 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 625 titik skala sedang, dan 32 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Sedikitnya 93 Orang Meninggal Dunia Akibat Bencana Alam Sepanjang Januari-Maret 2023)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 196 titik. Nusa Tenggara Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 91 titik. Kalimantan Barat berada di posisi ketiga sebanyak 56 titik panas.
Sebanyak 49 titik panas terdeteksi di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara menyusul dengan 39 titik panas, serta Kalimantan Timur dan Aceh masing-masing memiliki 34 dan 29 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Banjir dan Cuaca Ekstrem, Bencana Alam Terbanyak di Indonesia sampai Awal Agustus 2023)