Kementerian LHK Temukan 644 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Nusa Tenggara Timur (Minggu, 10 Agustus 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 644 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 447 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu (10/8/2025) pukul 11.21 WIB. Dari 644 titik panas terdeteksi, 22 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 587 titik skala sedang, dan 35 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Ada Ratusan Bencana Alam sampai Awal April 2024, Banjir Terbanyak)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 220 titik. Jawa Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 71 titik. Sumatera Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 61 titik panas.
Sebanyak 51 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara menyusul dengan 46 titik panas, serta Sumatera Barat dan Riau masing-masing memiliki 25 dan 25 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Ada 2 Ribu Bencana Alam di Indonesia pada 2024, Banjir Mendominasi)