KLHK Deteksi 279 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Riau (Minggu, 8 Februari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 279 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 110 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu (8/2/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 279 titik panas terdeteksi, 6 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 263 titik skala sedang, dan 10 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Indonesia, Negara dengan Kualitas Udara Terburuk di Asia Tenggara)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Riau sebanyak 98 titik. Kalimantan Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 72 titik. Kalimantan Tengah berada di posisi ketiga sebanyak 30 titik panas.
Sebanyak 26 titik panas terdeteksi di Aceh, Sulawesi Selatan menyusul dengan 13 titik panas, serta Kepulauan Riau dan Sumatera Utara masing-masing memiliki 11 dan 6 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Chad Jadi Negara dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia 2024)