Kementerian LHK Deteksi 155 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Kalimantan Barat (Minggu, 25 Mei 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 155 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 41 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu (25/5/2025) pukul 11.53 WIB. Dari 155 titik panas terdeteksi, 2 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 152 titik skala sedang, dan 1 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Akibat Karhutla, ISPA Kalimantan Selatan Capai 189 Ribu Kasus per September 2023)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 31 titik. Kalimantan Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 22 titik. Sumatera Utara berada di posisi ketiga sebanyak 15 titik panas.
Sebanyak 14 titik panas terdeteksi di Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur menyusul dengan 12 titik panas, serta Riau dan Kalimantan Selatan masing-masing memiliki 10 dan 8 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Hampir 5 Ribu Kejadian Bencana Alam di Indonesia Sepanjang 2023, Karhutla Mendominasi)