20.392 Hotspot Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Senin, 19 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 20.392 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 2686 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (19/10/2026) pukul 11.16 WIB. Dari 20.392 titik panas terdeteksi, 1379 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 18112 titik skala sedang, dan 901 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Update Hotspot di 6 Provinsi Prioritas Penanganan Karhutla (21 September 2026))
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Tengah sebanyak 8239 titik. Papua Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 2426 titik. Kalimantan Barat berada di posisi ketiga sebanyak 1797 titik panas.
Sebanyak 1187 titik panas terdeteksi di Sumatera Selatan, Kalimantan Timur menyusul dengan 812 titik panas, serta Jawa Timur dan Papua Barat masing-masing memiliki 780 dan 633 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Update Korban Karhutla: 347 Luka-luka dan 4 Meninggal (9 September 2026))
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18.013 | -0.12 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |