KLHK: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 1.522 Dalam 24 Jam Terakhir (Senin, 22 September 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 1.522 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 191 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (22/9/2025) pukul 11.06 WIB. Dari 1.522 titik panas terdeteksi, 34 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 1322 titik skala sedang, dan 166 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Meski Sudah Diguyur Hujan, Kualitas Udara Jakarta Masih Buruk)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 258 titik. Kalimantan Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 160 titik. Sulawesi Tengah berada di posisi ketiga sebanyak 159 titik panas.
Sebanyak 145 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Barat, Aceh menyusul dengan 117 titik panas, serta Kalimantan Barat dan Sulawesi Tenggara masing-masing memiliki 108 dan 106 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Bagaimana Cara Warga Identifikasi Udara Bersih di Tengah Buruknya Kualitas Udara?)