Kementerian LHK: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 191 Dalam 24 Jam Terakhir (Rabu, 29 April 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 191 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 150 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (29/4/2026) pukul 11.35 WIB. Dari 191 titik panas terdeteksi, 7 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 180 titik skala sedang, dan 4 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Sebaran Korban Meninggal karena Banjir dan Longsor di Sumatera Barat (9 Desember 2025))
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 35 titik. Sulawesi Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 33 titik. Sulawesi Tenggara berada di posisi ketiga sebanyak 22 titik panas.
Sebanyak 20 titik panas terdeteksi di Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan menyusul dengan 17 titik panas, serta Maluku Utara dan Kalimantan Selatan masing-masing memiliki 13 dan 9 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Sebaran Korban Meninggal karena Banjir dan Longsor di Sumatera Utara (9 Desember 2025))