Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, terdapat 81 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk meninggal aglomerasi karena Covid-19 di atas rata-rata nasional yang saat ini tercatat 0,05 jiwa per 100 ribu penduduk per minggu data per Kamis, 01 September 2022.
(Baca: 10 Kabupaten/Kota dengan BOR Rumah Sakit Covid-19 Tertinggi Nasional (Kamis, 01 September 2022))
Jumlah penduduk meninggal aglomerasi karena covid-19 lima kabupaten/kota teratas dengan angka lebih dari 1,01 jiwa per 100 ribu penduduk per minggu, yaitu Teluk Bintuni, Barito Selatan, Banggai Laut, Buton Tengah dan kota Palangkaraya dengan masing-masing nilai 1,45 jiwa per 100 ribu penduduk per minggu, 1,42 jiwa per 100 ribu penduduk per minggu, 1,27 jiwa per 100 ribu penduduk per minggu, 1,07 jiwa per 100 ribu penduduk per minggu dan 1,01 jiwa per 100 ribu penduduk per minggu.
Rekapitulasi data Covid nasional dari Kementerian Kesehatan memperlihatkan, jumlah penduduk meninggal aglomerasi karena Covid-19 sebagian besar kabupaten/kota di luar pulau Jawa terjadi peningkatan. Kondisi jumlah penduduk meninggal aglomerasi karena Covid-19 harian dengan angka lebih tinggi dari sebelumnya tercatat di delapan kabupaten/kota dan tiga kabupaten/kota mencatatkan jumlah penduduk meninggal aglomerasi karena Covid-19 lebih rendah.
(Baca: Daftar Kabupaten/Kota dengan Penduduk Meninggal Tertinggi di DKI Jakarta (Kamis, 01 September 2022))
Wilayah di luar Jawa dengan nilai jumlah penduduk meninggal aglomerasi karena covid-19 terbanyak beberapa di antaranya adalah Teluk Bintuni, Barito Selatan dan Banggai Laut dengan masing-masing jumlah penduduk meninggal aglomerasi karena covid-19 yakni 1,45 jiwa per 100 ribu penduduk per minggu, 1,42 jiwa per 100 ribu penduduk per minggu dan 1,27 jiwa per 100 ribu penduduk per minggu.
Meski penularan Covid-19 di sebagian wilayah telah turun, pemerintah mengimbau agar semua orang ikut mengurangi transmisi Covid-19 dengan selalu memakai masker, menjaga jarak, serta sering mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Tak berkerumun dan mengurangi mobilitas turut berkontribusi menekan laju penularan virus corona.