Harga rumah tumbuh lebih pesat dibanding pendapatan masyarakat. Akibatnya, harga rumah makin sulit dijangkau secara global.
Hal ini diungkapkan United Nations Human Settlements Programme (UN-Habitat) dalam laporan World Cities Report 2026: The Global Housing Crisis.
(Baca: Faktor yang Menghambat Kelas Menengah RI untuk Beli Rumah)
UN-Habitat mengukur keterjangkauan harga rumah berdasarkan price-to-income ratio, yakni dengan membandingkan median harga rumah dengan median pendapatan tahunan.
Pada 2010, angka rasionya secara global masih 9,3. Artinya, median harga rumah mencapai 9,3 kali lipat dari median pendapatan tahunan penduduk global.
Namun, setelah itu rasionya terus naik hingga menjadi 11,2 pada 2023. Artinya, penduduk global pada umumnya harus mengumpulkan uang setara pendapatan mereka selama 11 tahun, untuk bisa membeli satu unit rumah.
"Harga perumahan saat ini kurang terjangkau dibanding dua dekade lalu," kata UN-Habitat dalam laporannya.
"Meningkatnya biaya perumahan menunjukkan gejala krisis perumahan global, dengan tekanan paling besar terlihat di perkotaan," lanjutnya.
(Baca: Mayoritas Kelas Menengah Tinggal di Rumah Orang Tua)
Menurut UN-Habitat, tingginya kenaikan harga rumah dipengaruhi faktor permintaan dan penawaran.
Dari sisi permintaan, kenaikan harga dipengaruhi laju urbanisasi, pertumbuhan penduduk, dan kemunculan rumah tangga baru.
Kemudian dari sisi penawaran, hal tersebut dipengaruhi peningkatan biaya lahan, serta peraturan yang menghambat penyediaan perumahan terjangkau.
"Keberadaan institusi yang kuat sangat penting untuk memperbaiki keterjangkauan harga perumahan," kata UN-Habitat.
"Perluasan perumahan terjangkau bergantung pada komitmen politik yang berkelanjutan, pembiayaan yang dapat diprediksi, serta tata kelola yang bertanggung jawab," lanjutnya.
(Baca: Banyak Rumah Subsidi Belum Terserap sampai Juni 2026)