- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia Agustus 2026 mencatatkan surplus sebesar US$ 3,55 miliar. Angka ini merupakan lonjakan sangat tajam sebesar 2.814,03 persen dibanding Juli 2026 yang hanya surplus US$ 122 juta. Secara tahunan dibanding Agustus 2025, nilai surplus bulan ini tercatat mengalami kontraksi sebesar 36,26 persen.
(Baca: Data 2024: Jumlah Perceraian Nusa Tenggara Barat 207 Kasus)
Badan Pusat Statistik mencatat nilai surplus Agustus 2026 ini merupakan yang tertinggi sepanjang tahun berjalan, namun masih berada jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang sejarah. Rekor surplus neraca perdagangan tercatat sebesar US$ 7,58 miliar pada April 2022, sedangkan rekor defisit terburuk pernah tercatat turun US$ 2,33 miliar pada April 2019.
Badan Pusat Statistik mencatat dalam 12 bulan terakhir, neraca perdagangan Indonesia menunjukkan fluktuasi yang sangat ekstrem. Penurunan terbesar terjadi pada Mei 2026 ketika neraca terjun menjadi defisit -US$ 1,61 miliar akibat lonjakan impor yang melampaui ekspor, sebelum perlahan membaik kembali menuju surplus pada bulan berikutnya.
Badan Pusat Statistik mencatat akumulasi neraca perdagangan sepanjang Januari hingga Agustus 2026 tercatat sebesar US$ 7,25 miliar. Sepanjang delapan bulan pertama tahun ini, Agustus 2026 menjadi bulan dengan nilai surplus tertinggi, melampaui surplus US$ 3,32 miliar yang pernah dicapai pada Maret 2026.
(Baca: Jumlah Penduduk Bekerja di Kabupaten Parigi Moutong 270,18 Ribu dan Angka Pengangguran 2,1 Persen)
Badan Pusat Statistik mencatat pada Agustus 2026, ekspor non-migas sedikit naik 0,75 persen secara bulanan dan tumbuh 7,23 persen secara tahunan menjadi US$ 25,62 miliar. Sementara ekspor migas naik cukup signifikan 25,98 persen dibanding bulan sebelumnya, namun secara tahunan masih mencatatkan kontraksi 5,1 persen. Secara akumulasi tahun berjalan, ekspor non-migas mendominasi 95,86 persen dari total nilai ekspor nasional.
Badan Pusat Statistik mencatat defisit neraca migas pada Juli 2026 berhasil diperkecil menjadi -US$ 2,98 miliar, setelah sebelumnya mencatatkan rekor defisit terburuk turun US$ 3,76 miliar pada Mei 2026. Penyusutan defisit migas ini menjadi pendorong utama melonjaknya surplus total neraca perdagangan pada Agustus 2026, ditambah pertumbuhan ekspor non-migas yang konsisten.
Secara keseluruhan, pola neraca perdagangan Indonesia saat ini tetap bergantung pada kekuatan ekspor non-migas sebagai penopang utama surplus, sementara defisit sektor migas masih menjadi beban terbesar. Dengan kecenderungan defisit migas yang mulai bisa ditekan sejak pertengahan tahun, prospek surplus neraca perdagangan pada sisa tahun 2026 terlihat lebih stabil dibanding semester pertama.
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18 | +0.62 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Jul) | 3,77 | -17.33 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Jul) | 26,09 | +0.72 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |