Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk sabun mandi di Kabupaten Bone tahun 2024 mencapai 38115 Rupiah. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 6,8 persen dibandingkan tahun 2023, dengan selisih pengeluaran sebesar 2778,5 Rupiah per orang setiap bulannya. Sepanjang periode pengamatan tujuh tahun terakhir sejak 2018, nilai pengeluaran ini menunjukkan pergerakan naik turun setiap tahun tanpa pola peningkatan yang konsisten.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Aneka Barang dan Jasa Kab. Pesawaran | 2024)
Sepanjang tahun 2018 hingga 2024, pengeluaran sabun mandi masyarakat Kabupaten Bone tercatat mulai dari 30068 Rupiah pada tahun 2018. Pengeluaran tertinggi terjadi pada tahun 2023 dengan nilai 40894 Rupiah per kapita per bulan, sedangkan pengeluaran terendah tercatat pada tahun 2020 dengan nilai 30010 Rupiah. Kenaikan tertinggi sepanjang periode terjadi pada tahun 2021 yaitu sebesar 21,4 persen dari tahun sebelumnya, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada tahun 2020 yaitu sebesar 12,4 persen.
Pengeluaran untuk sabun mandi ini menyumbang sekitar 2,7 persen dari total rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang jasa masyarakat Kabupaten Bone. Jika dibandingkan dengan pos pengeluaran lain, nilai ini setara dengan 42 persen dari pengeluaran kecantikan, 11,2 persen dari pengeluaran makanan jadi, dan 38,5 persen dari pengeluaran perawatan pribadi per kapita setiap bulannya. Nilai pengeluaran sabun mandi juga hanya mencapai 42 persen dari rata-rata pengeluaran masyarakat untuk rokok dan tembakau.
Berdasarkan peringkat se-provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Bone menempati urutan ke 21 dari total 24 kabupaten dan kota untuk kategori pengeluaran sabun mandi tahun 2024. Peringkat ini sama dengan posisi tahun sebelumnya. Lima wilayah dengan pengeluaran sabun mandi tertinggi di provinsi ini berturut-turut adalah Kota Makassar dengan 99026 Rupiah, Kota Palopo 87159 Rupiah, Kabupaten Luwu Timur 73104 Rupiah, Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan 65899 Rupiah dan Kota Parepare 62322 Rupiah.
Tercatat hanya tiga wilayah di bawah Kabupaten Bone dalam daftar peringkat provinsi, yaitu Kabupaten Sinjai, Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Tana Toraja. Dari seluruh kabupaten dan kota di Indonesia, Kabupaten Bone menempati urutan ke 497 untuk indikator pengeluaran sabun mandi per kapita, sedangkan untuk lingkup pulau Sulawesi wilayah ini berada di urutan ke 72. Selama tiga tahun terakhir, rata-rata pengeluaran sabun mandi di Kabupaten Bone menunjukkan penurunan sedikit dibandingkan rata-rata lima tahun sebelumnya.
(Baca: 5,86% Penduduk di Kabupaten Wajo Masuk Kategori Miskin)
Pengeluaran Non Makanan Kabupaten Bone
Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk kelompok bukan makanan di Kabupaten Bone mencapai 475388 Rupiah pada tahun 2024. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 4,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan menempatkan Kabupaten Bone di urutan ke 20 dari 24 wilayah di Sulawesi Selatan untuk indikator ini. Peringkat ini lebih tinggi 1 tingkat dibandingkan peringkat pengeluaran sabun mandi wilayah ini. Nilai pengeluaran non makanan Kabupaten Bone hanya mencapai 47 persen dari nilai pengeluaran non makanan Kota Makassar yang menjadi tertinggi di provinsi.
Pengeluaran Total Masyarakat
Total pengeluaran per kapita gabungan makanan dan bukan makanan di Kabupaten Bone tercatat sebesar 911527 Rupiah per bulan pada tahun 2024. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 17,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan menempatkan wilayah ini di urutan ke 23 dari seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Hanya Kabupaten Jeneponto yang memiliki total pengeluaran per kapita lebih rendah dibandingkan Kabupaten Bone pada tahun 2024. Penurunan ini terjadi meskipun terdapat kenaikan pada pos pengeluaran sabun mandi tiga tahun sebelum 2024.
Pengeluaran Kelompok Makanan
Untuk kelompok pengeluaran makanan, Kabupaten Bone mencatat nilai 436139 Rupiah per kapita per bulan pada tahun 2024. Nilai ini hanya mengalami kenaikan sedikit sebesar 0,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikan wilayah ini urutan paling bawah atau ke 24 di seluruh Sulawesi Selatan untuk indikator pengeluaran makanan. Kenaikan yang sangat kecil ini menjadi anomali di tengah rata-rata kenaikan pengeluaran makanan di sebagian besar wilayah lain di provinsi yang mencapai rata-rata 15 persen pada tahun yang sama.