Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Kabupaten Kupang pada tahun 2024 sebesar Rp 119.286 per kapita per bulan.
Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 11,6 persen dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar Rp 106.914. Meskipun mengalami peningkatan, angka ini menempatkan Kabupaten Kupang pada peringkat ke-17 di antara kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Timur (NTT) dan peringkat ke-499 secara nasional. Pengeluaran ini mencakup berbagai kebutuhan seperti kecantikan (Rp 22.634), makanan jadi (Rp 93.335), perawatan (Rp 29.968), rokok dan tembakau (Rp 43.466), serta sabun mandi (Rp 43.851) per kapita per bulan.
(Baca: PDRB ADHB Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Periode 2013-2024)
Jika dibandingkan dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kabupaten Kupang yang mencapai Rp 873.789 pada 2024, pengeluaran untuk aneka barang dan jasa ini hanya mencakup sebagian kecil. Namun demikian, pertumbuhannya menunjukkan adanya peningkatan alokasi dana masyarakat untuk kebutuhan selain makanan. Pengeluaran untuk makanan tercatat lebih besar yaitu Rp 480.652.
Secara historis, pengeluaran untuk aneka barang dan jasa di Kabupaten Kupang mengalami fluktuasi. Pada tahun 2018, pengeluaran tercatat sebesar Rp 78.909, kemudian naik menjadi Rp 82.692 pada tahun 2019, dan melonjak signifikan menjadi Rp 98.874 pada tahun 2020. Sempat mengalami penurunan turun 11.3 persen pada tahun 2021 menjadi Rp 87.672, kemudian naik tajam sebesar 42 persen pada tahun 2022 menjadi Rp 124.472. Setelah itu, pada tahun 2023 terjadi penurunan turun 14.1 persen, sebelum akhirnya kembali naik pada tahun 2024. Tahun 2022 adalah tahun pengeluaran tertinggi pada periode tersebut.
Dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di NTT, Kota Kupang mencatatkan pengeluaran untuk aneka barang dan jasa tertinggi yaitu Rp 278.898 dengan penurunan turun 13 persen. Kabupaten Sabu Raijua berada di urutan kedua dengan Rp 256.117 dan pertumbuhan 20.4 persen, diikuti Kabupaten Belu dengan Rp 217.826 dan pertumbuhan 30.4 persen. Kabupaten Ngada mencatatkan Rp 209.747 dengan pertumbuhan 7.5 persen, sedangkan Kabupaten Malaka mencatatkan Rp 205.468 dengan pertumbuhan 5.9 persen.
(Baca: Nilai Tukar Rupiah Menguat ke Level Rp. 16.659,4 per Dolar AS (Rabu, 26 November 2025))
Kota Kupang
BPS mencatat Kota Kupang sebagai wilayah dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan tertinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada tahun 2024, angkanya mencapai Rp 792.892, menunjukkan penurunan turun 2.2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski mengalami penurunan, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kabupaten/kota lain di NTT, yang menunjukkan tingkat konsumsi barang dan jasa non-makanan yang lebih tinggi di wilayah perkotaan ini. Konsumsi makanan Kota Kupang lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lain, tetapi konsumsi non makanannya tinggi.
Kabupaten Manggarai Barat
Kabupaten Manggarai Barat menempati urutan kedua dalam hal rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan di NTT. Pada tahun 2024, pengeluaran tercatat sebesar Rp 498.135, mengalami kenaikan 2.7 persen. Kabupaten ini menunjukkan pertumbuhan yang stabil dalam konsumsi barang dan jasa non-makanan, yang mencerminkan potensi ekonomi yang berkembang di wilayah tersebut. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, nilai pertumbuhan pengeluaran Manggarai Barat lebih tinggi.
Kabupaten Sabu Raijua
Kabupaten Sabu Raijua menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan. BPS mencatat terjadi peningkatan sebesar 24.8 persen, mencapai Rp 481.157 pada tahun 2024. Pertumbuhan yang tinggi ini menunjukkan adanya perubahan perilaku konsumsi atau peningkatan pendapatan masyarakat di wilayah tersebut. Pertumbuhan pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan ini menempatkan Sabu Raijua pada posisi yang unik di antara kabupaten lain di NTT.
Kabupaten Sumba Timur
BPS mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan di Kabupaten Sumba Timur sebesar Rp 465.209 pada tahun 2024, meningkat 6.1 persen. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang moderat dalam konsumsi barang dan jasa non-makanan di wilayah tersebut. Pertumbuhan ini dapat mencerminkan peningkatan pendapatan atau perubahan preferensi konsumsi masyarakat Sumba Timur, yang menunjukkan tanda-tanda peningkatan kesejahteraan dan diversifikasi kebutuhan.