Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran per kapita sebulan untuk perawatan kulit di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, mencapai 72.879 rupiah pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 100,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 36.326 rupiah. Selisih pengeluaran perawatan kulit antara tahun 2024 dan 2023 mencapai 36.553,6 rupiah, yang menjadi kenaikan tertinggi dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.
(Baca: NPL Bank Umum bukan Lapangan Usaha bukan Lapangan Usaha Lainnya Periode 2015-2025)
Pengeluaran perawatan kulit di Kabupaten Enrekang mengalami fluktuasi dari tahun 2018 hingga 2023. Pada tahun 2018, pengeluaran tersebut sebesar 37.150 rupiah, lalu sedikit turun menjadi 35.346 rupiah pada 2019. Tahun 2020, pengeluaran sedikit naik menjadi 36.306 rupiah, sebelum turun signifikan menjadi 30.511 rupiah pada 2021. Kenaikan pertama yang signifikan terjadi pada 2022 dengan angka 48.388 rupiah, sebelum turun kembali menjadi 36.326 rupiah pada 2023.
Berdasarkan data Susenas yang diolah BPS, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang dan jasa di Kabupaten Enrekang adalah 253.876 rupiah. Pengeluaran perawatan kulit sebesar 72.879 rupiah pada tahun 2024 menyumbang sekitar 28,7 persen dari total pengeluaran tersebut. Dibandingkan dengan pengeluaran untuk makanan jadi yang sebesar 226.065 rupiah, pengeluaran perawatan kulit masih lebih rendah, namun lebih tinggi daripada pengeluaran untuk sabun mandi yang sebesar 56.759 rupiah.
Kabupaten Enrekang menempati peringkat ketiga dalam pengeluaran perawatan kulit di antara kabupaten/kota seprovinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2024. Peringkat pertama dipegang oleh Kota Makassar dengan pengeluaran 110.832 rupiah, meskipun mengalami penurunan sebesar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peringkat kedua adalah Kabupaten Bantaeng dengan pengeluaran 80.457 rupiah yang mengalami pertumbuhan luar biasa sebesar 144,8 persen. Kota Parepare menempati peringkat keempat dengan pengeluaran 62.705 rupiah, yang mengalami penurunan sebesar 29,3 persen.
Kota Makassar
Kota Makassar sebagai ibukota provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan pengeluaran per kapita sebulan untuk bukan makanan sebesar 1.012.020 rupiah pada tahun 2024, dengan pertumbuhan sebesar 8,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengeluaran total makanan dan bukan makanan mencapai 1.803.702 rupiah, yang mengalami penurunan sebesar 3,6 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran untuk makanan sebesar 791.682 rupiah, naik sebesar 5,7 persen. Kota Makassar menempati peringkat pertama dalam ketiga kategori pengeluaran tersebut di antara kabupaten/kota seprovinsi Sulawesi Selatan.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Perawatan Kulit Kab. Maluku Tenggara | 2024)
Kabupaten Bantaeng
Kabupaten Bantaeng menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam berbagai kategori pengeluaran pada tahun 2024. Pengeluaran per kapita sebulan untuk bukan makanan mencapai 599.915 rupiah, naik sebesar 40,5 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran total makanan dan bukan makanan sebesar 1.359.035 rupiah, naik sebesar 14,5 persen. Pengeluaran untuk makanan sebesar 759.120 rupiah, naik sebesar 34 persen. Kabupaten Bantaeng menempati peringkat ketiga dalam pengeluaran makanan, peringkat kesepuluh dalam pengeluaran bukan makanan, dan peringkat kedelapan dalam total pengeluaran di Sulawesi Selatan.
Kota Parepare
Kota Parepare mengalami pertumbuhan pengeluaran untuk bukan makanan sebesar 28,5 persen pada tahun 2024, mencapai 914.616 rupiah. Namun, pengeluaran total makanan dan bukan makanan turun sebesar 11,2 persen menjadi 1.535.908 rupiah, sementara pengeluaran untuk makanan naik sebesar 5,2 persen menjadi 621.292 rupiah. Kota Parepare menempati peringkat kedua dalam pengeluaran bukan makanan, peringkat ketiga dalam total pengeluaran, dan peringkat kesebelas dalam pengeluaran makanan di Sulawesi Selatan.
Kabupaten Enrekang
Kabupaten Enrekang menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa dalam pengeluaran bukan makanan sebesar 53,3 persen pada tahun 2024, mencapai 658.827 rupiah. Pengeluaran total makanan dan bukan makanan naik sebesar 9,9 persen menjadi 1.396.244 rupiah, dan pengeluaran untuk makanan naik sebesar 49,7 persen menjadi 737.416 rupiah. Kabupaten Enrekang menempati peringkat kedelapan dalam pengeluaran bukan makanan, peringkat kelima dalam total pengeluaran, dan peringkat keempat dalam pengeluaran makanan di Sulawesi Selatan.