Pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran mencapai Rp79.080 per kapita per bulan. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 28% dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan total pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang dan jasa sebesar Rp87.784, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi mencakup sebagian besar dari anggaran tersebut. Sementara itu, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi juga lebih besar jika dibandingkan pengeluaran untuk kecantikan yang hanya Rp11.526 per kapita per bulan. Kondisi ini menunjukkan prioritas konsumsi masyarakat Nagekeo.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan Besar untuk Rokok dan Tembakau Kab. Melawi | 2024)
Secara historis, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi di Nagekeo cenderung fluktuatif dalam kurun waktu 2018-2024. Pengeluaran tertinggi terjadi pada 2024, sedangkan terendah pada 2019. Sempat terjadi penurunan signifikan turun 26,7% pada 2019, namun kembali meningkat secara bertahap hingga mencapai pengeluaran tertinggi tahun ini.
Pada tahun 2024, rata-rata pengeluaran masyarakat Nagekeo untuk makanan dan bukan makanan mencapai Rp791.849. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp954.518. Penurunan ini menunjukkan adanya perubahan alokasi anggaran rumah tangga yang mungkin disebabkan oleh faktor ekonomi atau preferensi konsumsi.
Dalam skala regional, Kabupaten Nagekeo menduduki peringkat ke-18 dari 22 kabupaten/kota di NTT untuk pengeluaran makanan dan minuman jadi pada 2024. Peringkat ini berada di bawah Kota Kupang yang menduduki peringkat pertama. Dalam skala nasional, Nagekeo berada di peringkat 492.
Perbandingan dengan Kabupaten/Kota Lain di NTTBerikut perbandingan pengeluaran makanan dan minuman jadi dengan beberapa kabupaten/kota lain di NTT pada 2024: Kota Kupang: Pengeluaran mencapai Rp173.054 per kapita per bulan, dengan pertumbuhan 11,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Kota Kupang menempati peringkat pertama di provinsi tersebut. Kabupaten Sumba Timur: Pengeluaran mencapai Rp147.687 per kapita per bulan, dengan pertumbuhan 16,1%. Sumba Timur berada di peringkat kedua. Kabupaten Timor Tengah Selatan: Pengeluaran mencapai Rp143.094 per kapita per bulan, dengan pertumbuhan 7,8%. Timor Tengah Selatan menempati peringkat ketiga. Kabupaten Sikka: Pengeluaran mencapai Rp142.174 per kapita per bulan, dengan pertumbuhan 44,8%. Kabupaten Sikka menempati peringkat keempat. Kabupaten Manggarai: Pengeluaran mencapai Rp134.517 per kapita per bulan, dengan pertumbuhan 16,1%. Kabupaten Manggarai berada di peringkat kelima.
(Baca: 10 Provinsi dengan Harga Gula Pasir Lokal Paling Mahal (Jumat, 9 Januari 2026))
#### Kota KupangRata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan di Kota Kupang pada tahun 2024 mencapai Rp792.892, mengalami penurunan turun 2,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun terjadi penurunan, Kota Kupang tetap menjadi wilayah dengan pengeluaran bukan makanan tertinggi di NTT. Hal ini mencerminkan tingkat konsumsi dan kebutuhan yang lebih tinggi di wilayah perkotaan.
#### Kabupaten Manggarai BaratKabupaten Manggarai Barat mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan sebesar Rp498.135 pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya peningkatan konsumsi terhadap barang dan jasa non-primer di wilayah ini, seiring dengan perkembangan sektor pariwisata.
#### Kabupaten Sabu RaijuaPada tahun 2024, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan di Kabupaten Sabu Raijua mencapai Rp481.157. Pertumbuhan ini sangat signifikan, mencapai 24,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Kabupaten Sabu Raijua menempati urutan ketiga dalam hal pengeluaran bukan makanan di NTT, menunjukkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
#### Kabupaten Sumba TimurKabupaten Sumba Timur mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan sebesar Rp465.209 pada tahun 2024, dengan pertumbuhan sebesar 6,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini mengindikasikan peningkatan konsumsi non-primer. Kabupaten Sumba Timur berada di urutan keempat dalam hal pengeluaran bukan makanan di NTT.