Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk perawatan kulit di Kota Kendari pada tahun 2024 mencapai 88933 rupiah per orang. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 2,7 persen dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar 91392 rupiah per kapita per bulan. Sepanjang tujuh tahun periode pengamatan sejak 2018, catatan pengeluaran ini menunjukkan pergerakan naik turun dengan peningkatan paling besar terjadi pada tahun 2022.
(Baca: Statistik Jumlah Kepala Sekolah dan Guru SD Negeri Lebih dari atau Setara S1 Periode 2017-2024)
Sepanjang periode 2018 hingga 2024, pengeluaran perawatan kulit Kota Kendari tercatat mulai dari 67588 rupiah pada tahun 2018, turun sedikit menjadi 62821 rupiah pada 2019, naik sedikit menjadi 67147 rupiah pada 2020, turun sedikit menjadi 63111 rupiah pada 2021, lalu naik 77,4 persen menjadi 111946 rupiah pada tahun 2022. Angka 111946 rupiah pada tahun 2022 menjadi nilai pengeluaran tertinggi sepanjang periode data yang tersedia.
Pengeluaran untuk perawatan kulit ini menyumbang sekitar 26,7 persen dari total pengeluaran kecantikan per kapita, dan setara dengan 34 persen pengeluaran untuk sabun mandi masyarakat Kota Kendari. Jika dibandingkan pengeluaran total aneka barang jasa, nilai perawatan kulit hanya mencapai 26,7 persen dari rata-rata total pengeluaran tersebut. Masyarakat Kota Kendari masih mengalokasikan pengeluaran jauh lebih besar untuk kebutuhan makanan jadi dan rokok dibandingkan perawatan kulit.
Berdasarkan data perbandingan wilayah, Kota Kendari menempati urutan pertama untuk kategori pengeluaran perawatan kulit di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Tenggara. Urutan di bawahnya secara berturut-turut adalah Kabupaten Kolaka Utara dengan 82129 rupiah, Kabupaten Wakatobi 72849 rupiah, Kota Bau Bau 65866 rupiah dan Kabupaten Kepulauan Konawe dengan 63179 rupiah. Secara nasional, Kota Kendari berada di peringkat 72 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia untuk indikator ini.
Kabupaten Konawe Utara
Kabupaten Konawe Utara tercatat memiliki total pengeluaran per kapita bukan makanan tertinggi di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara pada tahun 2024 dengan nilai 1052952 rupiah per bulan. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 3,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mempertahankan posisi peringkat pertama untuk indikator ini. Untuk pengeluaran makanan, wilayah ini juga menempati urutan pertama dengan nilai 892441 rupiah per kapita per bulan, naik 1,1 persen dari tahun sebelumnya. Total pengeluaran keseluruhan masyarakat wilayah ini juga menjadi yang tertinggi di seluruh provinsi.
(Baca: Persentase Pengangguran 2025 di Kota Pekanbaru 5,25 Persen)
Kabupaten Kolaka Utara
Kabupaten Kolaka Utara menempati urutan kedua untuk total pengeluaran per kapita keseluruhan di Sulawesi Tenggara dengan nilai 1738888 rupiah per bulan pada tahun 2024. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan pengeluaran bukan makanan sebesar 30,7 persen, menjadi pertumbuhan tertinggi dibandingkan seluruh wilayah lain di provinsi ini. Untuk pengeluaran perawatan kulit, wilayah ini berada di urutan kedua tepat di bawah Kota Kendari dengan nilai 82129 rupiah, mengalami kenaikan sebesar 75,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kota Bau Bau
Kota Bau Bau menempati urutan ketiga untuk total pengeluaran per kapita keseluruhan di Sulawesi Tenggara dengan catatan 1391441 rupiah per orang per bulan pada tahun 2024. Pengeluaran bukan makanan di wilayah ini tumbuh sebesar 13,3 persen, sedangkan pengeluaran makanan tumbuh 4,6 persen dari tahun sebelumnya. Untuk indikator pengeluaran perawatan kulit, kota ini berada di urutan keempat se-provinsi dengan nilai 65866 rupiah, mengalami kenaikan sebesar 48,5 persen dibandingkan catatan tahun 2023.
Kabupaten Wakatobi
Kabupaten Wakatobi mencatatkan total pengeluaran per kapita keseluruhan sebesar 1385076 rupiah per bulan pada tahun 2024, menempati urutan kelima di seluruh Sulawesi Tenggara. Pengeluaran makanan di wilayah ini tumbuh 7,5 persen, sedangkan pengeluaran bukan makanan hanya naik sedikit sebesar 2,2 persen dari tahun sebelumnya. Untuk pengeluaran perawatan kulit, wilayah ini berada di urutan ketiga se-provinsi dengan nilai 72849 rupiah, mengalami kenaikan sebesar 10,9 persen dibandingkan catatan tahun sebelumnya.