Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29% (year-on-year/yoy).
Pertumbuhan ini diukur dari nilai produk domestik bruto (PDB) harga konstan Indonesia, yang naik dari Rp3.396,3 triliun pada kuartal II 2025, menjadi Rp3.576,2 triliun pada kuartal II 2026.
Jika diukur berdasarkan harga berlaku, nilai PDB Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai Rp6.552,1 triliun.
Adapun laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 melambat dibanding kuartal I 2026 yang mencapai 5,61% (yoy).
(Baca: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sedikit Menguat pada 2025)
Jika dilihat berdasarkan lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi paling tinggi pada kuartal II 2026 terjadi di sektor pengadaan listrik dan gas; serta penyediaan akomodasi dan makan-minum.
Sedangkan pertumbuhan paling lemah terjadi di sektor pertambangan dan penggalian, yang PDB-nya tumbuh negatif atau berkurang dibanding kuartal II tahun lalu.
Berikut rincian pertumbuhan PDB di 17 lapangan usaha utama Indonesia pada kuartal II 2026, diurutkan dari yang tertinggi:
- Pengadaan listrik dan gas: 10,81% (yoy)
- Penyediaan akomodasi dan makan-minum: 10,6% (yoy)
- Informasi dan komunikasi: 6,97% (yoy)
- Administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib: 6,89% (yoy)
- Jasa kesehatan dan kegiatan sosial: 6,88% (yoy)
- Konstruksi: 6,68% (yoy)
- Perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor: 6,39% (yoy)
- Jasa lainnya: 6,36% (yoy)
- Jasa pendidikan: 5,92% (yoy)
- Transportasi dan pergudangan: 5,65% (yoy)
- Jasa perusahaan: 5,08% (yoy)
- Industri pengolahan: 4,52% (yoy)
- Pertanian, kehutanan, dan perikanan: 3,8% (yoy)
- Real estat: 3,64% (yoy)
- Jasa keuangan dan asuransi: 3,11% (yoy)
- Pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang: 0,03% (yoy)
- Pertambangan dan penggalian: -1,64% (yoy)
(Baca: Sektor Usaha Penopang Utama Ekonomi Indonesia Tahun 2025)