- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
International Monetary Fund (IMF) merilis data historis PDB Paritas Daya Beli Thailand sampai tahun 2024 menunjukkan nilai saat ini tercatat 10,49 unit. Angka ini menandakan penurunan berlanjut selama 9 tahun berturut-turut sejak puncak terakhir pada tahun 2017. Sepanjang tiga tahun terakhir 2022-2024, nilai PDB PPP Thailand turun secara konsisten masing-masing turun 2,35%, -2,23% dan -1,46% setiap tahunnya.
(Baca: Jumlah Sekolah SMA di Maluku Utara | 2024)
Apabila dibandingkan rata-rata pertumbuhan tiga tahun terakhir, penurunan tahun 2024 sebesar 1,46% lebih kecil dibanding rata-rata penurunan tiga tahun yang mencapai 2,01%. Namun kondisi jauh lebih buruk dibanding rata-rata lima tahun terakhir yang hanya mencatatkan rata-rata penurunan tahunan sebesar 2,38%. Sepanjang 10 tahun data tersedia, tidak pernah terjadi sekali pun pertumbuhan positif sejak tahun 2017.
Satuan unit dalam data yang disajikan di artikel ini merupakan hasil perhitungan IMF atas nilai PDB harga berlaku mata uang nasional Thailand terhadap dolar internasional. Dalam Publikasinya, IMF menyebutkan perhitungan digunakan untuk tujuan penyusunan komposit kelompok negara. Data yang dihasilkan ini dikatakan bukan sebagai sumber utama penyajian data paritas daya beli (PPP).
Kenaikan tertinggi sepanjang data tercatat pada tahun 2016 dengan pertumbuhan 1,68%, sedangkan penurunan terparah terjadi pada tahun 2020 saat pandemi yaitu turun 3,57%. Anomali hanya terjadi pada periode 2015-2017 dimana sempat terjadi kenaikan kecil sebelum kemudian memasuki lintasan penurunan permanen sampai hari ini. Fluktuatif yang terjadi hanya berarti penurunan yang semakin dalam kemudian sedikit melambat, tidak pernah terjadi rebound kenaikan.
Sepanjang seluruh periode data 2015 sampai 2024, posisi peringkat PDB PPP Thailand di wilayah ASEAN tetap diam di posisi 7. Tidak terjadi kenaikan maupun penurunan peringkat sama sekali selama 10 tahun berturut-turut, meskipun nilai absolut PDB PPP terus mengalami penurunan setiap tahun.
(Baca: Statistik Nilai Ekspor SITC Kode 97 Emas, bukan untuk Moneter Periode 2020-2025)
International Monetary Fund (IMF) juga merilis proyeksi sampai tahun 2030 yang menunjukkan penurunan masih akan terus berlanjut. Kontraksi yang diproyeksikan berarti nilai PDB PPP Thailand akan terus menurun setiap tahun, dimulai dari -1,99% pada 2025, kemudian perlahan melambat sampai hanya -0,34% pada tahun 2030. Tidak ada satu tahun proyeksi pun yang menunjukkan perbaikan atau pertumbuhan positif.
Dibandingkan negara lain di ASEAN, Thailand merupakan salah satu dari sedikit negara yang masih mencatatkan penurunan PDB PPP pada tahun terbaru. Dalam tiga tahun terakhir, Vietnam menjadi negara dengan pertumbuhan terbaik dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 1,7%, disusul Laos sebesar 14,35% yang merupakan pertumbuhan tertinggi regional. Posisi peringkat Vietnam berada di urutan pertama regional saat ini.
Kondisi terbaru tahun 2024 menunjukkan laju penurunan yang sedikit melambat, namun tidak menandakan pemulihan ekonomi. Apabila proyeksi IMF berjalan sesuai perkiraan, maka sampai akhir dekade ini Thailand tidak akan keluar dari lintasan penurunan nilai PDB PPP, dan akan tetap bertahan di peringkat ke 7 ASEAN tanpa perubahan posisi berarti.
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Mei) | 3,08% | +0.66 | |
| Inflasi mom (Mei) | 0,28% | +0.15 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Des) | 7,50% | -0.75 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.906 | +0.41 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Neraca perdagangan (Apr) | 89,10 | -97.32 | |
| Ekspor Migas (Apr) | 1,16 | -9.81 | |
| Impor Migas (Apr) | 4,60 | +45.09 | |
| Ekspor (Apr) | 25,30 | +12.32 | |
| Impor (Apr) | 25,21 | +31.28 | |
| Kunjungan Wisman (Apr) | 1,25 | +14.75 | |
| NTP (Mei) | 113,79 | +1.34 |