Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk makanan dan minuman jadi di Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat mencapai 101872 rupiah pada tahun 2024. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 14,5 persen dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar 88992 rupiah. Sepanjang periode 2018 sampai 2024, tercatat pergerakan nilai pengeluaran ini pernah mengalami penurunan pada tahun 2019 sebelum kembali naik secara konsisten mulai tahun 2020.
(Baca: Statistik Rata-Rata Upah atau Gaji Bersih Sebulan Pekerja Formal Jasa Pendidikan Periode 2015-2025)
Pada tahun 2019, pengeluaran untuk kategori ini tercatat turun sebesar 22,1 persen menjadi 31779 rupiah, menjadi nilai terendah sepanjang periode data yang tersedia. Setelah tahun tersebut, kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2020 dengan peningkatan sebesar 76 persen. Sepanjang lima tahun terakhir sejak 2020, rata-rata kenaikan tahunan untuk pengeluaran makanan dan minuman jadi di wilayah ini mencapai 28,5 persen.
Pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi pada tahun 2024 menyumbang sekitar 10 persen dari total pengeluaran per kapita sebulan masyarakat Kabupaten Pegunungan Arfak yang mencapai 1012957 rupiah. Nilai ini juga berada di bawah pengeluaran untuk kategori sabun mandi, rokok dan tembakau, serta perawatan pribadi yang tercatat pada periode yang sama. Secara nasional, wilayah ini menempati urutan 462 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia untuk kategori pengeluaran ini.
Di tingkat provinsi Papua Barat, Kabupaten Pegunungan Arfak menempati urutan ketujuh untuk pengeluaran makanan dan minuman jadi tahun 2024. Enam kabupaten lain yang berada di atasnya secara berurutan adalah Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Fak Fak dan Kabupaten Teluk Wondama. Dari seluruh kabupaten di provinsi ini, hanya Kabupaten Pegunungan Arfak, Manokwari Selatan dan Kaimana yang mencatatkan pertumbuhan positif pada kategori ini sepanjang tahun 2024.
Kabupaten Manokwari
Kabupaten Manokwari mencatatkan pengeluaran makanan dan minuman jadi sebesar 213790 rupiah per kapita per bulan pada tahun 2024, berada pada urutan kedua di tingkat provinsi. Wilayah ini juga menempati urutan pertama untuk total pengeluaran per kapita bukan makanan sebesar 927024 rupiah, dengan pertumbuhan 19,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Total pengeluaran keseluruhan masyarakat di kabupaten ini tercatat sebesar 1832890 rupiah, mengalami penurunan sebesar 17 persen dibandingkan tahun 2023.
(Baca: PDRB ADHB per Kapita Kabupaten Boyolali Rp.44,03 Juta Data per 2025)
Kabupaten Teluk Bintuni
Kabupaten Teluk Bintuni menempati urutan pertama provinsi untuk pengeluaran makanan secara keseluruhan sebesar 948827 rupiah per kapita per bulan tahun 2024. Untuk kategori makanan dan minuman jadi, wilayah ini berada di urutan ketiga dengan nilai 177685 rupiah, namun mengalami penurunan sebesar 13,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengeluaran bukan makanan di kabupaten ini tumbuh sebesar 30,4 persen menjadi 883542 rupiah, menjadikannya wilayah dengan pertumbuhan pengeluaran bukan makanan tertinggi sepanjang 2024.
Kabupaten Manokwari Selatan
Kabupaten Manokwari Selatan menjadi wilayah dengan pertumbuhan pengeluaran makanan dan minuman jadi tertinggi di Papua Barat pada tahun 2024, dengan kenaikan sebesar 32 persen menjadi 214215 rupiah dan menempati urutan pertama provinsi untuk kategori ini. Pengeluaran bukan makanan di wilayah ini juga mencatatkan pertumbuhan sangat tinggi sebesar 55,2 persen menjadi 872163 rupiah, menempati urutan ketiga di tingkat provinsi. Total pengeluaran keseluruhan masyarakat kabupaten ini tercatat mengalami penurunan sebesar 13,4 persen pada tahun yang sama.
Kabupaten Kaimana
Kabupaten Kaimana mencatatkan pengeluaran makanan dan minuman jadi sebesar 172307 rupiah per kapita per bulan tahun 2024, berada pada urutan keempat di tingkat provinsi dengan pertumbuhan sedikit sebesar 4,8 persen. Wilayah ini menempati urutan keempat untuk pengeluaran bukan makanan sebesar 807424 rupiah dengan pertumbuhan 12,9 persen, sekaligus mencatatkan penurunan total pengeluaran keseluruhan sebesar 15,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk kategori pengeluaran makanan secara keseluruhan, wilayah ini menempati urutan kelima provinsi.