- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
International Monetary Fund (IMF) merilis data historis PDB Paritas Daya Beli Botswana tahun 2024 tercatat pada angka 5,07 unit. Angka ini menunjukkan kenaikan sangat tipis sebesar 0,12 persen dibandingkan tahun 2023 yang berada di posisi 5,06 unit. Selama tiga tahun terakhir yakni 2022, 2023 dan 2024, pertumbuhan ekonomi Botswana menunjukkan pola melambat drastis, dari sebelumnya tumbuh 6,99 persen pada 2022, kemudian mengalami kontraksi sebesar 1,8 persen pada 2023, dan hampir stagnan di tahun 2024. Kontraksi yang dimaksud adalah penurunan nilai pertumbuhan ekonomi dari periode sebelumnya ke periode berikutnya, dimana produksi dan nilai transaksi ekonomi nasional secara keseluruhan menyusut.
(Baca: Jumlah Sekolah SMA di Papua | 2024)
International Monetary Fund (IMF) mencatat rata-rata pertumbuhan tiga tahun terakhir Botswana hanya berada di angka 1,77 persen per tahun. Angka ini sedikit lebih buruk dibandingkan rata-rata pertumbuhan lima tahun terakhir sejak 2020 yang mencapai 1,61 persen, dan juga lebih rendah dibandingkan rata-rata 10 tahun terakhir sejak 2015 yang tercatat sebesar 1,75 persen per tahun. Selama 10 tahun terakhir, puncak pertumbuhan tertinggi Botswana terjadi pada tahun 2016 dengan lonjakan 10,84 persen, sementara titik terendah tercatat pada tahun 2017 dengan kontraksi sebesar 4,37 persen.
Satuan unit dalam data yang disajikan di artikel ini merupakan hasil perhitungan IMF atas nilai PDB harga berlaku mata uang nasional Botswana terhadap dolar internasional. Dalam Publikasinya, IMF menyebutkan perhitungan digunakan untuk tujuan penyusunan komposit kelompok negara. Data yang dihasilkan ini dikatakan bukan sebagai sumber utama penyajian data paritas daya beli (PPP).
Terdapat anomali pertumbuhan pada kurun 2022 sampai 2024. Setelah mengalami lonjakan pemulihan pasca pandemi sebesar 6,99 persen pada 2022, Botswana langsung mengalami kontraksi pada tahun berikutnya, dan hampir tidak mengalami pertumbuhan sama sekali di tahun 2024. Anomali ini menjadikan kurun tiga tahun terakhir sebagai periode pertumbuhan terlemah Botswana selama 10 tahun terakhir, di luar periode krisis ekonomi tahun 2017 dan awal pandemi 2020.
International Monetary Fund (IMF) mencatat peringkat PDB PPP Botswana di kawasan Afrika terus mengalami penurunan. Pada tahun 2023 negara ini berada di peringkat 42 kawasan, dan pada tahun 2024 turun dua peringkat menjadi posisi 44 dari total 50 negara yang dicatat di kawasan Afrika. Penurunan peringkat ini terjadi akibat laju pertumbuhan Botswana yang jauh lebih lambat dibandingkan rata-rata negara lain di kawasan Afrika pada tahun yang sama.
(Baca: BPS: Jumlah Penduduk Miskin di Lampung Turun 3,03%(Data Desember 2025))
Berdasarkan data perbandingan negara se kawasan, dalam tiga tahun terakhir Malawi mencatatkan pertumbuhan PDB PPP terbaik normal sebesar 25,95 persen. Sementara Botswana dengan pertumbuhan hanya 0,12 persen pada 2024 berada jauh di bawah rata-rata pertumbuhan negara Afrika, dan hanya lebih baik dari 6 negara lain di kawasan pada tahun ini. Angka pertumbuhan ekstrem Zimbabwe tidak dijadikan acuan sebab merupakan dampak hiperinflasi nasional.
International Monetary Fund (IMF) merilis proyeksi PDB PPP Botswana untuk enam tahun ke depan mulai 2025 sampai 2030. Data proyeksi menunjukkan pemulihan bertahap, dimana pertumbuhan diproyeksikan membaik dari 0,49 persen pada 2025, naik menjadi 2,96 persen pada 2026, dan bertahan di kisaran 1,8 sampai 2,27 persen sampai tahun 2030. Secara keseluruhan proyeksi ini menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi dibandingkan kondisi stagnan yang terjadi pada tahun 2024.
Meskipun proyeksi menunjukkan perbaikan, laju pertumbuhan yang diproyeksikan masih berada di bawah puncak pertumbuhan historis Botswana. Tanpa adanya lonjakan pertumbuhan yang signifikan, posisi peringkat Botswana di kawasan Afrika diprediksi akan terus turun dalam tiga tahun ke depan, mengingat sebagian besar negara lain di kawasan memiliki proyeksi pertumbuhan yang lebih tinggi pada periode yang sama.
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Jul) | 2,88% | -0.46 | |
| Inflasi mom (Jul) | -0,14% | -0.58 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.828 | -0.14 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Neraca perdagangan (Jun) | -450,50 | -72.02 | |
| Ekspor Migas (Jun) | 1,07 | +40.52 | |
| Impor Migas (Jun) | 4,56 | +0.96 | |
| Ekspor (Jun) | 25,46 | +9.72 | |
| Impor (Jun) | 25,91 | +4.41 | |
| Kunjungan Wisman (Mei) | 1,38 | +10.69 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |