PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan kerugian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,19 triliun pada 2025.
Kerugian tersebut menyusut 77% (year-on-year/yoy), sekaligus menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir.
Adapun GOTO selalu merugi selama periode 2021-2025, dengan kerugian paling dalam terjadi pada 2023, sebagaimana terlihat pada grafik.
Sementara, pendapatan bersih GOTO selalu tumbuh pada periode yang sama. Sepanjang 2025, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp18,32 triliun, melesat 15% (yoy).
Namun, per kuartal I 2026, GOTO untuk pertama kali mencatatkan laba sebesar Rp257,94 miliar.
Pendapatan bersih emiten teknologi ini menyentuh Rp5,34 triliun, tumbuh 26% (yoy) dibanding kuartal I 2025.
Pendapatan itu paling banyak berasal dari segmen jasa pengiriman, yaitu sebesar Rp1,56 triliun atau sekitar 29% dari total pendapatan.
Lalu pendapatan dari imbalan jasa senilai Rp1,52 triliun, pinjaman Rp1,32 triliun, imbalan jasa e-commerce Rp288,22 miliar, imbalan iklan Rp136,48 miliar, dan lainnya Rp518,47 miliar.
Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, mengatakan torehan kuartal I 2026 mencerminkan kerja keras tim dalam mendorong pertumbuhan pendapatan hingga menciptakan nilai nyata bagi pelanggan serta mitra pengemudi dan mitra usaha.
"Kami berada dalam posisi yang baik untuk menghadapi situasi global saat ini, dan percaya bahwa GoTo dapat tetap memberikan layanan terbaik kepada jutaan masyarakat Indonesia," kata Hans dalam siaran pers.
(Baca: GOTO, Emiten dengan Saham Tercatat Terbanyak di Indonesia)